9 Negara ASEAN Siap Terima Mata Uang BRICS: Dedolarisasi Makin Nyata, Indonesia Ikut Main!

9 Negara ASEAN Siap Terima Mata Uang BRICS: Dedolarisasi Makin Nyata, Indonesia Ikut Main!

Oleh : iTheoS

Glitik - Sembilan negara anggota ASEAN secara resmi menyatakan kesepakatan untuk menerima mata uang BRICS, meskipun alat pembayaran digital ini belum diluncurkan secara global. Langkah ini memperkuat posisi blok BRICS yang kini beranggotakan 10 negara, termasuk Indonesia, dalam mendorong penggunaan mata uang bersama untuk transaksi internasional.

Kesepakatan tersebut menandakan keyakinan kuat bahwa mata uang BRICS berpotensi merevolusi sistem keuangan dunia. BRICS terus berkomitmen mengurangi ketergantungan pada dolar AS (USD), mempercepat agenda dedolarisasi di perdagangan lintas negara dan fintech global.

Daftar 9 Negara ASEAN yang Siap Adopsi Mata Uang BRICS

Menurut laporan Watcher Guru, negara-negara ASEAN berikut telah menyatakan kesiapan penuh:

  • Brunei Darussalam
  • Kamboja
  • Laos
  • Malaysia
  • Myanmar
  • Filipina
  • Singapura
  • Thailand
  • Vietnam

Negara-negara ini membuka pintu lebar untuk menggunakan mata uang BRICS dalam perdagangan, e-wallet lintas batas, dan kerja sama ekonomi pasca-peluncuran resmi. Dominasi dolar AS dinilai penuh risiko geopolitik dan ketidakpastian kebijakan, terutama bagi negara berkembang.

Peran China-Rusia dan Status Indonesia di BRICS

China dan Rusia sebagai pendorong utama BRICS terus mengajak mitra untuk lepas dari dominasi USD. Upaya ini didorong ketidakpuasan global terhadap sanksi ekonomi AS yang berdampak luas.

Indonesia, sebagai anggota ASEAN dan BRICS Indonesia resmi, dipastikan akan mengadopsi mata uang ini dalam skema ekonomi blok. Dengan tambahan 9 negara ASEAN, total hampir 19 negara berpotensi memanfaatkan mata uang BRICS untuk perdagangan internasional.

Belum lagi 13 negara mitra (partner countries) BRICS yang bisa ikut arus dedolarisasi, membuat jumlah pengguna potensial terus bertambah.

Dampak Global: Pergeseran Kekuatan Ekonomi ke Timur

Perkembangan ini mencerminkan pergeseran kepercayaan dunia dari dolar AS ke alternatif baru seperti mata uang BRICS. Peluncurannya diprediksi ubah lanskap keuangan global, memperkuat blockchain-based payment dan fintech di Asia.

Dalam konteks Indonesia, ini membuka peluang baru untuk pinjol digital, e-wallet seperti GoPay atau DANA, dan investasi blockchain yang lebih mandiri dari fluktuasi USD.