Yogyakarta 1939: Ketika Keraton Berkabung dan Sejarah Berputar
Glitik - Yogyakarta, 22 Oktober 1939. Suara gamelan pelan bergema di dalam tembok tebal Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Hari itu, duka menyelimuti seluruh kota. Sri Sultan Hamengkubuwono VIII raja yang bijak dan disegani mangkat. Bagi masyarakat Jogja, kabar itu bukan sekadar berita, melainkan titik balik sejarah.
Di tengah suasana sendu, rakyat mengenakan pakaian hitam-hitam, dan jalan-jalan di sekitar alun-alun utara dipenuhi pelayat. Prosesi pemakaman berlangsung khidmat namun megah sebuah penghormatan terakhir untuk pemimpin yang telah memimpin sejak 1921. Di masa pemerintahannya, Sultan Hamengkubuwono VIII dikenal lihai berdiplomasi dengan pemerintah kolonial Belanda, menjaga kemandirian budaya Jawa di tengah tekanan kekuasaan Eropa.
Namun di balik duka itu, sejarah sedang menyiapkan babak baru.
Datangnya Sang Pewaris dari Negeri Belanda
Jauh sebelum ajal menjemput, sang Sultan telah meminta putra mahkota G.R.M. Dorodjatun untuk pulang ke tanah air. Saat itu, ia tengah menimba ilmu di Belanda. Bayang-bayang Perang Dunia II mulai mengancam Eropa, dan ayahandanya ingin sang putra kembali ke tanah leluhur.
Tak lama setelah kabar duka itu, G.R.M. Dorodjatun tiba di Yogyakarta. Ia tak hanya pulang sebagai anak yang kehilangan ayah, tetapi juga sebagai calon raja. Takhta Keraton menunggunya dan kelak, ia akan dikenal sebagai Sri Sultan Hamengkubuwono IX, sosok yang memainkan peran penting dalam sejarah Republik Indonesia.
Potret Yogyakarta Tempo Doeloe
Bayangkan Yogyakarta pada tahun 1939:
Sebuah kota kecil yang sejuk, dipenuhi pepohonan rindang dan aroma kopi dari warung-warung tradisional. Jalan Malioboro belum seramai sekarang, dan di sepanjang jalannya, delman dan andong berderap pelan, menjadi alat transportasi utama masyarakat.
Di kejauhan, Tugu Pal Putih berdiri gagah dalam bentuk aslinya belum tersentuh renovasi modern. Di sudut-sudut kampung, para pedagang keliling menggiling biji kopi secara manual, menciptakan aroma yang khas. Semua bergerak lambat, damai, dan penuh harmoni.
Kehidupan rakyat masih sangat dekat dengan alam dan tradisi. Yogyakarta kala itu bukan sekadar kota, melainkan lukisan hidup tentang keseimbangan antara kekuasaan, budaya, dan kebijaksanaan.
Jejak Diplomasi dan Awal Perubahan
Meskipun Sultan Hamengkubuwono VIII telah wafat, hubungan diplomatik antara Keraton dan Pemerintah Kolonial Belanda tetap berjalan. Namun di bawah permukaan, ada getaran halus perubahan: semangat nasionalisme mulai tumbuh. Tak lama kemudian, di bawah kepemimpinan Sultan Hamengkubuwono IX, Yogyakarta akan menjadi jantung perjuangan kemerdekaan Indonesia tempat lahirnya semangat persatuan antara rakyat dan bangsawan.
Yogyakarta Hari Ini: Menyusuri Jejak 1939
Kini, lebih dari delapan dekade berlalu, namun napas sejarah 1939 masih terasa.
Jika Anda berkunjung ke Keraton Yogyakarta, berjalanlah pelan di koridor panjangnya, dengarkan suara gamelan yang mengalun lembut, dan bayangkan suasana duka 22 Oktober 1939 itu.
Lihatlah Tugu Pal Putih yang kini berdiri megah saksi bisu perjalanan panjang monarki Jawa yang masih bertahan di tengah republik modern.
Yogyakarta bukan sekadar destinasi wisata, melainkan warisan hidup dari sejarah panjang kerajaan Nusantara. Dan setiap sudutnya menyimpan cerita tentang kesetiaan, transisi, dan kebangkitan sebuah bangsa.