Xiaomi Walkie-Talkie Digital — Menjembatani Masa Lalu dan Masa Depan Komunikasi
Glitik - Di tengah hiruk-pikuk persaingan dunia smartphone dan perangkat berbasis kecerdasan buatan (AI), Xiaomi kembali membuktikan bahwa inovasi tidak selalu harus berarti “baru”. Kali ini, perusahaan teknologi asal Tiongkok itu melangkah ke arah berbeda dengan menghadirkan walkie-talkie digital, sebuah bentuk penghormatan terhadap teknologi komunikasi klasik namun dikemas ulang dengan sentuhan modern.
Kembali ke Dasar, Tapi Lebih Canggih
Dalam dunia yang semakin bergantung pada internet dan sinyal seluler, kehadiran walkie-talkie digital ini terasa seperti napas segar. Xiaomi menawarkan solusi komunikasi off-grid, memungkinkan penggunanya tetap terhubung bahkan tanpa jaringan seluler maupun Wi-Fi.
Perangkat ini menggunakan teknologi FDMA (Frequency Division Multiple Access), sistem pembagian frekuensi yang membuat transmisi suara lebih jernih dan stabil, serta mengurangi risiko gangguan sinyal. Dalam kondisi terbuka, jangkauan komunikasinya bisa mencapai 5 kilometer, sementara di area tertutup seperti pabrik atau mal, cakupannya tetap luas hingga 10.000 meter persegi.
Bagi para petualang, tim keamanan, logistik, atau pekerja industri, kemampuan ini jelas menjadi keunggulan tersendiri, komunikasi tetap berjalan meski dunia digital sedang “offline”.
Satu Tombol untuk Ribuan Koordinasi
Xiaomi tetap mempertahankan ciri khas klasiknya: tombol push-to-talk. Dengan satu sentuhan, pengguna bisa langsung berbicara tanpa harus membuka aplikasi atau menunggu sambungan.
Sederhana, cepat, dan efisien, tiga hal yang seringkali hilang dalam komunikasi modern.
Selain itu, daya tahannya juga mengesankan. Berbekal baterai 2.500 mAh, perangkat ini mampu bertahan hingga 100 jam dalam mode siaga, atau sekitar 14 jam untuk penggunaan aktif. Artinya, perangkat ini siap menemani aktivitas intens sepanjang hari tanpa harus sering diisi ulang.
Desain Klasik yang Dibalut Modernitas
Sekilas, bentuknya mengingatkan pada walkie-talkie lawas yang dulu sering digunakan tim keamanan atau pendaki gunung. Namun Xiaomi mengemasnya dalam desain ergonomis bergaya “candy bar” dengan antena kecil yang tetap kokoh.
Layar LED berwarna 1,57 inci (320x200 piksel) menampilkan berbagai informasi penting seperti saluran komunikasi, kontak, dan notifikasi pesan. Sertifikasi IP54 juga memastikan perangkat ini tahan terhadap debu dan percikan air, membuatnya tangguh di berbagai kondisi lapangan dari area konstruksi hingga puncak gunung.
Sentuhan Modern: Bluetooth dan Harga Ramah Kantong
Tidak hanya mengandalkan fungsi dasar komunikasi, Xiaomi turut menyematkan fitur Bluetooth untuk menghubungkan perangkat dengan ponsel pintar. Melalui fitur ini, pengguna bisa menambahkan kontak, mengatur saluran, bahkan memantau posisi rekan satu tim secara digital.
Di pasar Tiongkok, walkie-talkie digital ini dijual dengan harga 349 yuan, atau sekitar Rp800 ribuan sebuah harga yang terbilang terjangkau untuk perangkat dengan fungsi sepraktis ini. Meski belum ada kabar resmi tentang perilisan globalnya, banyak penggemar Xiaomi di berbagai negara berharap perangkat ini segera hadir di pasar internasional.
Teknologi Klasik yang Kembali Dihidupkan
Peluncuran produk ini menjadi bukti bahwa teknologi klasik tidak pernah benar-benar usang hanya menunggu waktu untuk berevolusi. Xiaomi berhasil menghadirkan keseimbangan antara nostalgia dan efisiensi modern, menawarkan alat komunikasi yang fungsional, tahan lama, dan relevan dengan kebutuhan masa kini.
Dalam dunia yang semakin terhubung secara digital, Xiaomi walkie-talkie digital mengingatkan kita bahwa komunikasi sejati tidak selalu bergantung pada sinyal, melainkan pada kemampuan untuk tetap terhubung kapan pun dan di mana pun.
Dengan inovasi sederhana namun berarti, Xiaomi sekali lagi menunjukkan bahwa masa depan teknologi juga bisa dimulai dari masa lalu.