UGM dan Revolusi Manajemen Rekam Medis: Masa Depan Digital Fasilitas Kesehatan Modern
UGM dan Revolusi Manajemen Rekam Medis: Masa Depan Digital Fasilitas Kesehatan
Kecepatan, akurasi, dan ketepatan dalam pencatatan riwayat kesehatan pasien kini menjadi aspek yang tidak bisa ditawar dalam pelayanan fasilitas kesehatan. Hal ini ditekankan dalam aturan Menteri Kesehatan No. 24 Tahun 2022 yang menjadi panduan penting untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi melalui pemanfaatan rekam medis elektronik (RME). Namun, implementasi aturan ini masih menghadapi berbagai tantangan di lapangan.
Meski kebijakan sudah ada sejak 2022, banyak fasilitas kesehatan, terutama rumah sakit pemerintah yang memiliki potensi besar, belum mampu mengoptimalkan transformasi digital dalam pencatatan medis. Kendala utama yang dihadapi antara lain keterbatasan sumber daya manusia yang kompeten di bidang teknologi kesehatan dan tingginya biaya aplikasi rekam medis elektronik. Kekurangan tenaga kesehatan yang mampu menjadi jembatan antara proses manual dan digital membuat proses transformasi berjalan lambat.
Untuk itu, peningkatan kompetensi sumber daya manusia sangat krusial. Meskipun saat ini sudah banyak sekolah tinggi yang menghasilkan tenaga ahli rekam medis setingkat sarjana, kenyataan di lapangan menunjukkan kebutuhan akan sosok pemimpin atau manajer yang dapat menerjemahkan kebutuhan fasilitas kesehatan ke dalam penggunaan teknologi. Tenaga perekam medis profesional harus didukung oleh manajer yang mampu mengarahkan perubahan secara strategis.
Salah satu institusi yang telah menjawab kebutuhan tersebut adalah Universitas Gadjah Mada (UGM). Universitas ini telah mengembangkan program pendidikan di bidang manajemen rekam medis pada jenjang S2, jauh melampaui program sarjana biasa. Dengan keberhasilan mencetak tenaga ahli manajemen rekam medis tingkat magister, UGM membuka jalan bagi lahirnya pemimpin-pemimpin baru dalam dunia kesehatan yang siap mengatur alur rekam medis digital secara efektif.
Ke depan, para tenaga kesehatan dengan pendidikan tingkat S2 diharapkan akan semakin banyak bermunculan dan berperan sebagai manajer rekam medis di berbagai institusi kesehatan. Mereka akan menjadi kunci sukses transformasi dari sistem manual ke rekam medis elektronik yang efisien dan akurat. Semoga keberhasilan terbaru dari salah seorang mahasiswi asal Kota Padang yang lulus seminar proposal menjadi tanda positif untuk masa depan rekam medis di Indonesia.
Perkembangan ini bukan hanya sebuah kemajuan pendidikan, tetapi juga sebuah harapan besar agar pelayanan kesehatan di tanah air dapat berjalan lebih modern, cepat, dan tepat mewujudkan layanan yang terbaik bagi pasien dan tenaga kesehatan.