Tragedi Berdarah di Rio: 132 Orang Tewas dalam Operasi Polisi Paling Mematikan di Brasil
Glitik - Operasi polisi terbesar dan terberat dalam sejarah Rio de Janeiro menelan korban tewas sebanyak 132 orang dalam penggerebekan besar terhadap geng narkoba Comando Vermelho, menyingkap wajah kelam kekerasan ekstrem yang bertolak belakang dengan citra kota wisata dunia itu.
Jumlah korban tewas dalam operasi kepolisian terbesar dan paling berdarah di Brasil kembali bertambah, dengan total 132 orang tewas dalam penggerebekan besar terhadap geng Comando Vermelho organisasi kriminal tertua dan terbesar di Rio de Janeiro. Angka ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah operasi kepolisian di kota tersebut.
Kepolisian Negara Bagian Rio melaporkan 119 korban sementara, terdiri dari 115 tersangka kriminal dan empat anggota polisi. Sementara itu, Kantor Pembela Umum Negara Bagian Rio mencatat total korban tewas sebanyak 132 orang pada Kamis (30/10/2025).
Presiden Luiz Inácio Lula da Silva segera mengirim Menteri Kehakiman Ricardo Lewandowski ke Rio untuk membantu pemerintah daerah menangani krisis keamanan. Lewandowski menyatakan dukungan penuh untuk mengakhiri krisis ini dengan cepat. Di sisi lain, hakim Mahkamah Agung Alexandre de Moraes memanggil Gubernur Claudio Castro untuk meminta penjelasan soal legalitas dan proporsionalitas operasi.
Operasi rahasia yang dilakukan pada Selasa (28/10) melibatkan ratusan polisi, kendaraan lapis baja, helikopter, dan drone tempur, menyerbu dua favela basis Comando Vermelho. Pertempuran sengit meletus, membuat warga sipil panik dan melarikan diri. Kelompok kriminal melancarkan perlawanan dengan membajak bus, memblokir jalan utama, dan menggunakan drone bermuatan peledak untuk menyerang polisi.
Gubernur Claudio Castro menyebut operasi tersebut sukses dalam memberantas "narkoterorisme" dan menyatakan korban tewas hanya berasal dari pihak kriminal dan polisi. Hingga kini, 113 tersangka telah ditangkap, 91 senapan dan sejumlah besar narkoba disita.
Namun, footage yang beredar di media sosial memperlihatkan puluhan mayat tergeletak di jalanan padat penduduk. Sekretaris Kepolisian Sipil Felipe Curi mengklaim mayat-mayat itu sudah dipajang warga setelah menglepas pakaian kamuflase para tersangka. Sekretaris Kepolisian Militer Marcelo de Menezes mengatakan pasukan elite sengaja menggerakkan pelaku ke area hutan di perbatasan favela guna melindungi warga.
Operasi ini memicu kecaman dari kelompok hak asasi manusia, yang menilai aksi polisi sebagai kegagalan sistemik negara dalam mengatasi kekerasan perkotaan dan kemiskinan yang mengakar di Brasil.