Tembaga Cetak Sejarah! Harga Tembus US$13.000 per Ton untuk Pertama Kalinya

Tembaga Cetak Sejarah! Harga Tembus US$13.000 per Ton untuk Pertama Kalinya

Oleh : iTheoS

Glitik - Pasar komoditas dunia sedang diguncang rekor baru. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, harga tembaga sukses menembus level psikologis US$13.000 per ton pada perdagangan Selasa (6/1/2026). Lonjakan tajam ini menjadikan tembaga berada di titik tertinggi sepanjang masa (All Time High). Fenomena ini dipicu oleh kombinasi panas antara kebijakan tarif Amerika Serikat, gangguan tambang global, hingga masifnya kebutuhan teknologi masa depan seperti pusat data (data center) dan kendaraan listrik (EV).

Faktor Utama: "Efek Trump" dan Penimbunan Skala Besar di AS

Salah satu penggerak utama reli ini adalah derasnya pengiriman tembaga ke Amerika Serikat. Ancaman tarif impor dari Presiden Donald Trump memicu kekhawatiran pelaku pasar, sehingga terjadi penimbunan pasokan besar-besaran di AS sebelum aturan baru berlaku.

Premi Harga: Harga tembaga di AS diperdagangkan dengan premi yang jauh lebih tinggi dibandingkan London Metal Exchange (LME).

Distorsi Pasokan: Data menunjukkan AS kini menguasai sekitar 50% persediaan tembaga global, padahal permintaannya kurang dari 10%. Hal ini membuat wilayah lain terancam kekurangan pasokan (shortage).

Analis BMO Capital Markets, Helen Amos, menyebut bahwa akumulasi persediaan AS yang berskala historis ini menjadi mesin utama yang menggerakkan harga global.

Gangguan Produksi dan Aksi Spekulatif

Selain faktor kebijakan AS, sisi produksi juga sedang mengalami tekanan berat. Beberapa gangguan operasional yang memperketat pasar antara lain:

Aksi Mogok: Tambang Mantoverde di Chile sedang dilanda mogok kerja, memicu kekhawatiran suplai terhambat.

Masalah Teknis Global: Kecelakaan fatal di tambang tembaga terbesar kedua di Indonesia serta banjir di Republik Demokratik Kongo pada tahun lalu masih menyisakan luka pada rantai pasok.

Investasi Rendah: Industri telah lama memperingatkan bahwa pembukaan tambang baru tidak sebanding dengan lonjakan permintaan untuk transisi energi.

Senior Base Metals Strategist di Marex, Al Munro, menilai reli ini juga didorong oleh dana spekulatif yang melihat masih ada ruang kenaikan harga, terutama pada kuartal I/2026.

Logam Merah di Jantung Transisi Energi

Tembaga kini bukan sekadar komoditas industri biasa, melainkan mineral kritis. Logam ini memegang peran vital dalam instalasi kelistrikan global. Lonjakan harga ini juga dibarengi dengan kenaikan logam mulia lainnya seperti emas, perak, dan platinum yang juga mencetak rekor dalam beberapa hari terakhir.

"Pasar nyaris tanpa bantalan pasokan akibat kurangnya investasi selama bertahun-tahun," tegas Ewa Manthey, pakar komoditas dari ING Groep NV.

FAQ: Apa yang Perlu Anda Ketahui?

Q: Mengapa harga tembaga sangat penting bagi ekonomi? A: Tembaga sering dijuluki "Dokter Tembaga" karena harganya mencerminkan kesehatan ekonomi global. Penggunaannya yang luas pada kabel, mesin, dan konstruksi membuatnya menjadi indikator utama pertumbuhan industri.

Q: Apakah harga tembaga akan terus naik di 2026? A: Analis memperkirakan tren bullish masih akan berlanjut di kuartal pertama 2026 karena kondisi backwardation (harga tunai lebih mahal dari kontrak berjangka) yang menandakan ketatnya pasokan jangka pendek.

Q: Apa dampak serangan AS ke Venezuela terhadap komoditas? A: Meski fokus utama pada harga minyak, ketegangan geopolitik umumnya mendorong investor beralih ke aset komoditas sebagai pelindung nilai, yang secara tidak langsung ikut mengerek harga logam seperti tembaga.

Kenaikan tembaga ke level US$13.000 adalah sinyal nyata bahwa dunia sedang berebut sumber daya mineral kritis. Dengan stok global yang terkonsentrasi di AS dan gangguan produksi di berbagai belahan dunia, harga tembaga diprediksi akan tetap volatil namun cenderung kuat dalam beberapa bulan ke depan.