Sumando, Gelar, dan Makna Kehormatan dalam Budaya Pariaman
Sumando, Gelar, dan Makna Kehormatan dalam Budaya Pariaman
Oleh: Dzaky Herry Marino
Tradisi pemberian gala sumando di Pariaman merupakan salah satu bukti bahwa masyarakat Minangkabau mampu memadukan sistem matrilineal dengan prinsip saling menghormati antara laki-laki dan perempuan. Meskipun garis keturunan ditarik dari pihak ibu, kedudukan laki-laki tetap dimuliakan, bukan karena kekuasaan, tetapi karena nilai moral dan tanggung jawabnya terhadap keluarga istrinya.
Dalam masyarakat Minang, pernikahan tidak hanya menyatukan dua individu, melainkan dua kaum. Oleh karena itu, kehadiran sumando dalam keluarga istri bukanlah peristiwa pribadi, melainkan sosial. Gelar adat yang diberikan, seperti Sidi, Sutan, Bagindo, atau Marah Sutan, melambangkan bahwa seorang laki-laki telah diterima secara penuh oleh keluarga perempuan. Pemberian gelar ini bukan sekedar penghormatan, namun juga mengingatkan bahwa ia kini memikul tanggung jawab moral menjaga nama baik kaum istrinya.
Kesantunan dalam Penyebutan
Menariknya, setelah gala diberikan, masyarakat Pariaman tidak lagi menyebut nama asli menantu laki-laki. Mereka menyapanya hanya dengan gelar yang diterima. Tradisi ini mengandung pesan kesopanan yang halus, bahwa menyebut nama langsung dianggap terlalu pribadi, sedangkan menyebut gelar menunjukkan penghormatan sosial.
Inilah bentuk komunikasi adat yang sarat nilai etika, memperlihatkan betapa lembutnya cara masyarakat Minangkabau menjaga kehormatan antar individu.
Jejak Sejarah dan Jaringan Budaya
Tradisi gala sumando juga menunjukkan keterhubungan Pariaman dengan dunia luar. Gelar Bagindo misalnya, menjadi bukti hubungan sejarah dengan Kesultanan Aceh, sedangkan pertemuan Sutan masyarakat pesisir dengan pengaruh Istano Pagaruyung. Hal ini menunjukkan bahwa adat Pariaman tidak berdiri sendiri, ia terbentuk dari perjumpaan antara nilai-nilai Islam, pengaruh kerajaan, dan dinamika sosial pesisir. Dengan demikian, gala sumando adalah simbol keterbukaan budaya yang tetap berpijak pada akar tradisi Minangkabau.
Namun, di era modern, makna gala sumando mulai bergeser. Banyak generasi muda yang hanya melihatnya sebagai simbol adat pernikahan, tanpa memahami nilai tanggung jawab dan filosofi di baliknya.
Padahal, gala sumando adalah bentuk pendidikan karakter, mengajarkan bahwa setiap kehormatan datang bersama amanah.
Jika tradisi ini ditinggalkan, masyarakat Pariaman bukan hanya kehilangan proses adat, tetapi juga kehilangan bahasa halus yang membangun kesan sosial mereka.
Gala sumando mengajarkan bahwa kehormatan tidak diukur dari keturunan atau kekayaan, tetapi dari cara seseorang menjaga nama baik keluarga dan menghargai orang lain.
Dengan melestarikan tradisi ini, masyarakat Pariaman menjaga jati dirinya, bahwa adat bukan sekedar warisan, tetapi cermin kebijaksanaan hidup.
Seperti kata pepatah Minang:
“Nan sabana urang, bukannyo tinggi gelarnya, tapi elok budi bahasanya.”