Sultan Gegar Alamsyah: Pelindung Budaya dan Arsitek Keharmonisan Inderapura

Sultan Gegar Alamsyah: Pelindung Budaya dan Arsitek Keharmonisan Inderapura

Oleh :

Sultan Gegar Alamsyah: Pelindung Budaya dan Arsitek Keharmonisan Inderapura

Oleh: Ari Yuliasril

Di tengah derasnya arus perdagangan dan perubahan politik pesisir Sumatera, Sultan Gegar Alamsyah muncul sebagai raja yang tidak hanya membangun kekayaan materi, tetapi juga membangun karakter budaya dan moral bangsanya. Ia memahami bahwa kekuatan sejati kerajaan tidak terletak pada benteng atau kapal dagang, melainkan pada harmoni sosial dan warisan budaya yang kokoh.

Harmoni dalam Keberagaman

Inderapura adalah kerajaan yang dihuni oleh beragam etnis, Minangkabau, Melayu, Aceh, bahkan keturunan pedagang asing. Sultan Gegar Alamsyah berhasil menciptakan tatanan sosial yang inklusif, di mana perbedaan dijembatani oleh adat dan agama.

Ia menerapkan prinsip adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah sebagai dasar pemerintahan. Dengan ini, semua kebijakan kerajaan diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara ajaran Islam dan tradisi lokal.

“Beliau adalah contoh bagaimana agama dan budaya bisa berjalan seiring tanpa saling meniadakan,” ujar Prof. Dr. Gusti Asnan dalam bukunya Sumatera Barat hingga Plakat Panjang.

Pelindung Seni dan Kerajinan

Di bawah pemerintahannya, seni ukir, tenun songket, dan pembuatan perhiasan mencapai masa keemasan. Para pengrajin diberi perlindungan dan dukungan oleh istana. Produk-produk tersebut bukan hanya simbol estetika, tetapi juga bagian dari diplomasi budaya, karena sering dijadikan hadiah untuk tamu kerajaan dan pedagang asing.

Melalui kebijakan itu, Inderapura bukan hanya menjadi pusat ekonomi, tetapi juga pusat kebudayaan Melayu pesisir barat Sumatera.

Kepemimpinan Berjiwa Rakyat

Sultan Gegar Alamsyah dikenal sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyatnya. Cerita rakyat setempat menggambarkannya sering turun langsung ke pelabuhan atau sawah untuk berdialog dengan masyarakat. Ia mendengar keluhan, menengahi perselisihan, dan memastikan pajak tidak membebani rakyat kecil.

Hal ini membuatnya dicintai rakyat dan dihormati para bangsawan. Ia menjadi contoh pemimpin yang memimpin dengan akal dan rasa, bukan dengan kekuasaan semata.

Warisan Moral

Warisan terbesar Sultan Gegar Alamsyah bukan hanya istana dan pelabuhan, tetapi nilai kepemimpinan yang humanis dan berkeadilan. Ia membuktikan bahwa kejayaan budaya tidak akan punah selama pemimpinnya memahami arti keharmonisan dan keadilan sosial.

Kini, kisahnya menjadi inspirasi bagi masyarakat Minangkabau untuk meneladani prinsip kepemimpinan berbasis moral dan kearifan lokal, bahwa kemajuan sejati harus berpijak pada akar budaya sendiri.