Skizofrenia di Indonesia: Misteri Otak yang Mengintip dari Bayang-Bayang!
Glitik - Skizofrenia adalah gangguan mental kronis yang serius, memengaruhi cara seseorang berpikir, bertindak, mengekspresikan emosi, memahami realitas, dan berinteraksi dengan orang lain. Meski kondisi ini jarang terjadi dibanding penyakit mental berat lainnya, hanya memengaruhi kurang dari 1 persen populasi dewasa di Amerika Serikat, skizofrenia termasuk gangguan yang paling kronis dan melumpuhkan.
Berbeda dengan AS, di Indonesia skizofrenia justru menjadi penyakit mental yang paling banyak ditemukan. Berdasarkan data klaim BPJS dari 2020 hingga 2024, skizofrenia merupakan masalah kesehatan jiwa dengan jumlah kasus dan nilai klaim terbesar di tanah air.
Kementerian Kesehatan RI melaporkan provinsi dengan jumlah penderita gangguan jiwa tertinggi adalah DKI Jakarta (24,3 persen), Nagroe Aceh Darusalam (18,5 persen), Sumatera Barat (17,7 persen), NTB (10,9 persen), Sumatera Selatan (9,2 persen), dan Jawa Tengah (6,8 persen).
Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, prevalensi gangguan mental emosional dengan gejala depresi dan kecemasan pada usia di atas 15 tahun sebesar 6 persen atau sekitar 14 juta orang. Sementara itu, prevalensi gangguan jiwa berat seperti skizofrenia adalah 1,7 per 1000 penduduk atau kira-kira 400.000 orang.
Penyebab skizofrenia diperkirakan merupakan kombinasi faktor genetik dan lingkungan, antara lain:
- Genetik
Risiko skizofrenia meningkat jika ada riwayat keluarga yang menderita kondisi ini. - Ketidakseimbangan kimia otak
Ketidakseimbangan neurotransmitter dopamin dan kemungkinan serotonin turut berperan dalam perkembangan skizofrenia. - Faktor lingkungan
Seperti trauma saat lahir, malnutrisi sebelum lahir, infeksi virus, dan trauma psikososial. - Penggunaan ganja
Studi tahun 2023 menunjukkan hingga 30 persen kasus skizofrenia pada laki-laki usia 21-30 tahun mungkin terkait gangguan penggunaan ganja. Zat dalam ganja bisa memicu skizofrenia pada orang yang rentan.
Gejala umum skizofrenia meliputi:
berbicara tidak nyambung, kurang ekspresi wajah dan emosi, kehilangan motivasi, sulit konsentrasi, gerakan lambat, kesulitan mengambil keputusan, menulis tanpa makna, lupa barang, serta mengulang gerakan seperti mondar-mandir. Sebelum gejala muncul, seseorang mungkin tampak cemas, kurang fokus, dan berperilaku tidak teratur.
Perawatan sederhana yang dianjurkan bagi penderita skizofrenia meliputi:
- Prioritaskan tidur
Tidur cukup dan jadwal tidur rutin penting untuk mengurangi gejala dan menjaga kestabilan suasana hati. - Tambahkan aktivitas fisik
Olahraga ringan meningkatkan energi, fungsi otak, dan daya ingat. - Makan makanan seimbang
Nutrisi baik membantu menstabilkan energi dan kesehatan mental. - Kelola stres
Teknik seperti mindfulness, terapi, meditasi, dan menulis jurnal dapat membantu manajemen stres. - Bangun sistem pendukung sosial
Hubungan dekat dengan keluarga dan teman dapat mengurangi risiko kambuh hingga 20 persen pada penderita skizofrenia.