Sinyal Kuat Jonan Gantikan Pandu: Strategi Kilat Presiden Prabowo Subianto Tuntaskan Utang Fantastis Proyek Whoosh
Glitik - Presiden Prabowo Subianto bersiap melakukan perubahan strategis di Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia), dengan nama mantan Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan, muncul sebagai kandidat utama pengganti Pandu Sjahrir sebagai Chief Investment Officer. Langkah ini terkait upaya penyelesaian utang besar proyek kereta cepat Whoosh tanpa membebani APBN.
Pergeseran posisi besar tengah terjadi di tubuh Danantara Indonesia. Presiden Prabowo Subianto, dengan pertimbangan matang, memandang perlu penguatan di jajaran pimpinan Danantara guna menghadapi tantangan berat utang proyek kereta cepat Whoosh yang membebani negara dengan angka mencapai Rp116-119 triliun.
Nama mantan Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan, mencuat sebagai kandidat paling kuat untuk menggantikan posisi Chief Investment Officer yang kini dipegang oleh Pandu Sjahrir. Informasi ini muncul setelah Jonan dipanggil ke Istana Negara pada Senin, 3 Oktober 2025, seperti diungkapkan Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch, Iskandar Sitorus.
Menurut Iskandar, Jonan dinilai sangat tepat karena pengalamannya yang mendalam terkait proyek Whoosh. “Selain pengalaman besar dalam perkeretaapian, Jonan tahu betul persoalan Whoosh. Bahkan, saat menjabat menteri di era Jokowi, ia pernah menolak pengerjaan proyek tersebut sebelum akhirnya dicopot,” jelas Iskandar.
Salah satu tugas utama Jonan nanti adalah menyelesaikan utang proyek Whoosh melalui skema business-to-business (B2B), menghindarkan pembebanan anggaran negara atau APBN. Posisi ini dinilai krusial seiring penolakan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, terhadap penggunaan dana negara untuk pelunasan utang proyek kereta cepat tersebut. Dinamika politik yang melibatkan sosok seperti Luhut Binsar Panjaitan dan sikap pemerintah menambah kompleksitas situasi.
Pemanggilan Jonan ke Istana juga bersamaan dengan kehadiran Menko IPK, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dan Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, yang meminta kejelasan perkembangan utang dan opsi penyelesaian. AHY mengungkapkan bahwa pertemuan tersebut berlangsung dua jam penuh, membahas berbagai isu sensitif yang menyertai proyek ini.
Sementara itu, Bobby menegaskan koordinasi erat antara PT KAI dan Danantara sebagai holding, yang sedang mencari solusi bersama pemerintah untuk menyelesaikan masalah utang ini.
Isyarat pergantian pimpinan Danantara ini semakin kuat di tengah sorotan publik yang menuntut transparansi dan kejelasan penggunaan dana investasi negara, khususnya dalam pengelolaan utang besar proyek kereta cepat yang ambisius ini.
sumber : indeksnews