Saham Superbank SUPA Anjlok 14% ke Rp1.050! IPO Rp2,79 T Siap Sulap Bank Digital Jadi Raksasa
Glitik - Saham PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) milik Grup Emtek pagi ini langsung menyentuh auto rejection bawah (ARB), anjlok 14,63% ke level Rp1.050 per saham hingga pukul 09:10 WIB. Volume perdagangan mencapai 276 juta lembar saham dengan frekuensi 101,3 ribu kali senilai Rp316,8 miliar, tapi volatilitas ini normal untuk IPO baru 4 hari melantai di BEI.
Meski fluktuatif, prospek jangka panjang pemilik saham cerah berkat dana IPO Rp2,79 triliun dari 4,4 miliar saham baru (13% modal) harga Rp635. Saham buka perdana 17 Desember Rp790 naik 24,4% ARA, tapi hari ini balik turun tajam – sinyal beli murah bagi investor visioner yang lihat potensi bank digital ini kuasai pasar underbanked Indonesia.
Presiden Direktur Superbank Tigor Siahaan optimis saat pencatatan perdana di Main Hall BEI Jakarta: "Dukungan pemegang saham dan ekosistem Emtek kuatkan kami perluas akses kredit, inovasi produk, serta layanan finansial aman untuk jutaan masyarakat." Modal IPO jadi fondasi pertumbuhan berkelanjutan, janjikan return tinggi bagi saham jangka panjang.
Alokasi Dana IPO: Strategi Ekspansi Agresif
Sekitar 70% dana hasil IPO (setelah biaya emisi) dialokasikan untuk modal kerja, fokus perkuat penyaluran kredit ritel dan UMKM – segmen underbanked dengan 100 juta potensi nasabah. Superbank incar blue ocean ini via lending digital cepat, tingkatkan NPL rendah berkat AI risk assessment.
Sisanya 30% untuk belanja modal: pengembangan digital payment systems, infrastruktur IT, sistem operasional kuat, plus investasi AI, data analytics, dan cybersecurity. Upgrade ini posisikan SUPA saingi SeaBank, Jenius, hingga Bank Jago dengan edge teknologi Emtek Group.
Prospek Jangka Panjang Pemilik Saham
Investor jangka panjang untung besar: valuasi SUPA saat ini undervalued post-IPO crash. Dengan target pertumbuhan kredit 50%+ YoY, ROE potensi 20-25% dalam 3 tahun, saham bisa rebound ke Rp2.000-3.000 saat eksekusi sukses. Ekosistem Emtek (Nusantara Plus, K-Vision) sinergi dorong user acquisition masif.
Volatilitas ARB hari ini justru peluang akumulasi. Historis bank digital IPO seperti GOTO atau BUKA rebound 200-500% pasca-stabil. SUPA beda: fokus core banking + fintech hybrid, kurangi risiko pure tech bubble.
Regulator OJK dukung ekspansi bank digital 2026-2030, target 30% pangsa pasar. Superbank siap dominasi via partnership e-commerce dan payroll digital. Pemilik saham hold 2-5 tahun? Potensi 5-10x return saat valuasi P/BV naik dari 1x ke 3-4x.
Pantau quarterly report Q1 2026: jika kredit tumbuh 40%+ dan CASA ratio >50%, saham langsung rally. Superbank bukan spekulasi short-term, tapi cerita sukses bank digital generasi baru ala Emtek!