Randai: Teater Rakyat yang Menyatukan Gerak, Cerita, dan Jiwa Minangkabau

Randai: Teater Rakyat yang Menyatukan Gerak, Cerita, dan Jiwa Minangkabau

Oleh :

Randai: Teater Rakyat yang Menyatukan Gerak, Cerita, dan Jiwa Minangkabau

Oleh: Rafhel Setya Pratama

Randai adalah bentuk teater tradisional khas Minangkabau yang menampilkan kekayaan seni pertunjukan rakyat dengan gaya yang unik. Ia bukan sekadar hiburan, melainkan cerminan cara masyarakat Minangkabau memahami kehidupan, menyampaikan pesan moral, dan mempererat kebersamaan sosial.

Asal-usul Randai diyakini bermula dari wilayah Darek, khususnya di Pariangan, Tanah Datar, daerah yang juga dianggap sebagai pusat lahirnya budaya Minangkabau. Menurut tradisi lisan, Randai berkembang pada abad ke-20, berawal dari kegiatan berburu rusa yang kemudian menjadi ajang hiburan kolektif. Dari sana, bentuk pertunjukan ini berevolusi menjadi teater rakyat dengan struktur dan nilai-nilai budaya yang kuat.

Unsur utama Randai adalah gabungan seni gerak, seni suara, dan seni tutur. Para pemain menari dalam formasi melingkar, melakukan gerakan yang terinspirasi dari silek (silat Minangkabau), sementara cerita disampaikan melalui dialog, pantun, dan nyanyian. Kaba, cerita rakyat yang berisi pesan moral dan nilai kehidupan, menjadi sumber utama kisah Randai, seperti Cindua Mato, Sabai Nan Aluih, atau Anggun Nan Tongga.

Setiap elemen dalam Randai memiliki makna simbolis. Lingkaran tempat pemain bergerak menggambarkan persatuan dan kesetaraan, tak ada posisi tertinggi, semua bagian saling bergantung. Gerakan silek mencerminkan ketangkasan sekaligus kedisiplinan, sementara pantun-pantun di sela dialog menunjukkan kecerdasan berbahasa orang Minang. Musik pengiring dari gandang, saluang, dan talempong menambah semarak suasana, menghubungkan ritme tubuh dan jiwa.

Menurut Zulkifli, dosen seni teater di Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, “Randai adalah teater rakyat yang hidup dari rakyat untuk rakyat.” Ia lahir dari kehidupan sosial Minangkabau dan berfungsi sebagai sarana komunikasi, pendidikan, dan refleksi moral. Hal ini sejalan dengan pendapat Aisah Sulia Fitri, yang menilai Randai sebagai “warisan budaya yang mampu menjaga semangat kolektif masyarakat Minangkabau.”

Di tengah arus hiburan modern, Randai masih dipertahankan dalam berbagai upacara adat dan festival seni. Banyak sanggar di Sumatera Barat yang mengajarkan seni ini kepada generasi muda. Randai menjadi bukti bahwa tradisi tidak hanya bisa bertahan, tetapi juga berkembang tanpa kehilangan akar nilai yang melahirkannya.

Randai bukan sekadar pertunjukan, melainkan cermin hidup masyarakat Minangkabau yang menghargai harmoni, kebersamaan, dan kearifan dalam setiap langkah gerakannya.