Quantum Computing: Revolusi Canggih yang Bukan Lagi Fiksi, Tapi Masa Depan Indonesia!
Glitik - quantum computing Indonesia, komputasi kuantum, teknologi frontier, riset komputasi kuantum, algoritma kuantum, post-quantum cryptography, ancaman keamanan digital, kolaborasi riset kuantum, BRIN komputasi kuantum, transformasi digital kuantum
Di tengah derasnya gelombang kemajuan teknologi, komputasi kuantum muncul sebagai frontier yang menjanjikan perubahan besar dalam berbagai sektor. Tidak sekadar alat hitung lebih cepat, komputasi kuantum berpotensi merevolusi bidang kriptografi, keamanan data, kesehatan, hingga riset ilmiah yang rumit.
Di Indonesia, perhatian terhadap teknologi ini semakin nyata. Kepala Organisasi Riset Elektronika dan Informatika (OREI) BRIN, Budi Prawara, dalam sambutannya di Kolokium Komputasi bertajuk Beyond Science Fiction: Mengupas Hype dan Realitas dalam Quantum Computing mengungkapkan, “Dulu komputasi kuantum dianggap sebagai fiksi ilmiah, tapi kini riset global membuktikan potensinya yang luar biasa.” Menurut Budi, kemampuan komputasi kuantum menangani masalah yang terlalu kompleks bagi komputer klasik membuka peluang transformasi digital di banyak bidang penting.
Diskusi kolokium tersebut menghadirkan perspektif mendalam dari tiga pemikir yang menjadi narasumber utama. Listiyanto dari FMIPA Universitas Negeri Semarang memberikan gambaran teknis terkait pengembangan algoritma kuantum untuk invarian topologis manifold berdimensi rendah. "Komputasi kuantum memungkinkan kita menghitung objek-objek topologi rumit seperti Betti numbers dengan algoritma LGZ secara lebih efisien," jelas Listiyanto. Ia juga mengisyaratkan rencana riset pengembangan algoritma kuantum untuk Heegaard-Floer Homology, yang menegaskan kontribusi Indonesia dalam riset frontier yang penting secara global.
Sementara itu, Arinta Primandini Auza berbagi pengalaman soal dinamika bekerja di bidang quantum computing di Australia, di mana kolaborasi lintas disiplin menjadi kunci kemajuan teknologi ini. "Meskipun terdapat tantangan budaya berupa gatekeeping dan skeptisisme, ekosistem kuantum di Australia sangat progresif," katanya. Arinta kini berkiprah di Quantum Brilliance, startup pembuat komputer kuantum berbasis berlian NV center. Ia menegaskan bahwa keberhasilan inovasi harus berakar pada rasa inklusif, bukan elitisme, demi memaksimalkan keahlian lintas bidang.
Dari sisi keamanan digital, Rifki Sadikin, Kepala PR Komputasi BRIN, membawa perhatian serius pada ancaman yang dibawa komputer kuantum terhadap kriptografi saat ini. Sistem enkripsi populer seperti RSA dan Diffie-Hellman, yang bertumpu pada problem faktorisasi, menjadi rentan akibat kemampuan algoritma Shor yang dijalankan mesin kuantum. "Ini bukan masalah yang bisa ditunda. Data yang terenkripsi hari ini bisa dibongkar di masa depan," ujarnya. Sebagai solusi, Rifki memperkenalkan Post-Quantum Cryptography (PQC), skema enkripsi baru yang tahan serangan kuantum, yang kini tengah menjadi fokus global, termasuk dengan standar awal dari NIST sejak Agustus 2024.
Rifki mengajak komunitas riset di Indonesia untuk berkolaborasi mengembangkan protokol PQC agar negeri ini tidak tertinggal dalam era komputasi kuantum. Pesan ini mendapat dukungan penuh dari Budi Prawara yang menegaskan pentingnya kesiapan sumber daya manusia unggul dan kerja sama lintas disiplin serta institusi sebagai kunci menguasai teknologi frontier.
“Penguasaan teknologi kuantum tidak instan, ia harus dibangun melalui riset intensif dan kolaborasi,” tutup Budi.
Feature ini menjadi cerminan perjalanan Indonesia memasuki era kuantum yang bukan lagi jadikan fiksi ilmiah, tetapi peluang nyata yang menantang sekaligus membuka cakrawala baru. Transformasi digital yang selama ini kita lihat, segera akan diperkuat oleh kecanggihan komputasi kuantum untuk mengatasi masalah besar di seluruh ranah kehidupan—dari kesehatan hingga keamanan digital.