Perempuan, Jembatan Surga dan Penentu Arah Dunia
Perempuan, Jembatan Surga dan Penentu Arah Dunia
Perempuan adalah jembatan surga bagi umat manusia. Kalimat ini bukan sekadar pujian, melainkan penegasan tentang betapa agungnya peran perempuan dalam peradaban. Islam sejak awal menempatkan perempuan pada posisi yang mulia. Sabda Rasulullah SAW yang masyhur, “Surga berada di bawah telapak kaki ibu,” menjadi pengingat abadi bahwa kemuliaan dan keselamatan manusia bersumber dari rahim dan kasih seorang perempuan.
Padahal, pada masa jahiliah, kelahiran seorang anak perempuan dianggap aib. Mereka dibuang, dikubur hidup-hidup, atau disingkirkan karena dianggap tak berguna. Lalu Islam datang menghancurkan paham kelam itu, menggantinya dengan kemuliaan: bahwa setiap anak, laki-laki maupun perempuan, adalah anugerah Allah yang membawa amanah dan cahaya bagi dunia.
Kini, berabad-abad kemudian, peringatan Hari Anak Perempuan Internasional setiap 11 Oktober kembali mengingatkan kita akan pesan yang sama: kemuliaan perempuan bukan sekadar narasi, tapi tanggung jawab bersama untuk dijaga dan diwujudkan.
Sejarahnya berawal dari Konferensi Dunia tentang Perempuan di Beijing tahun 1995, yang melahirkan Deklarasi dan Platform Aksi Beijing cetak biru paling progresif untuk memajukan hak-hak perempuan dan anak perempuan. Kemudian, pada 19 Desember 2011, Majelis Umum PBB menetapkan 11 Oktober sebagai Hari Anak Perempuan Internasional melalui Resolusi 66/170. Sejak saat itu, dunia punya hari khusus untuk mengakui hak-hak anak perempuan dan menyoroti tantangan unik yang mereka hadapi.
Tema tahun ini, “The girl I am, the change I lead: Girls on the frontlines of crisis”, menjadi pengingat bahwa anak-anak perempuan hari ini bukan hanya korban keadaan, tetapi juga agen perubahan. Mereka ada di garis depan menghadapi krisis iklim, ketidakadilan sosial, kekerasan, dan diskriminasi. Mereka tidak menunggu dunia yang lebih baik mereka sedang membangunnya.
Namun, sering kali suara mereka diabaikan, tindakan mereka diabaikan, kebutuhan mereka dikesampingkan. Padahal, ketika seorang anak perempuan diberi kesempatan untuk belajar, aman dari kekerasan, dan bebas berpendapat, ia sedang menyiapkan pondasi peradaban yang lebih manusiawi.
Sebagaimana ibu menjadi jembatan surga, maka setiap anak perempuan adalah calon penjaga surga masa depan bagi keluarga, masyarakat, bahkan dunia.
Kini saatnya kita terutama para perempuan menyadari bahwa kemuliaan bukan lagi hanya tentang bagaimana kita dihargai, tetapi juga bagaimana kita memimpin perubahan.
Jadilah suara yang tidak diam, langkah yang tidak gentar, dan cahaya yang menerangi jalan generasi setelahmu. Karena dunia yang lebih baik tidak akan lahir tanpa keberanian perempuan yang percaya pada dirinya sendiri. ( Salam penuh cinta untuk perempuan dalam hidupku ).