Melestarikan Suara Emas Surau: Regenerasi dan Inovasi Salawat Dulang di Era Digita

Melestarikan Suara Emas Surau: Regenerasi dan Inovasi Salawat Dulang di Era Digita

Oleh :

Melestarikan Suara Emas Surau: Regenerasi dan Inovasi Salawat Dulang di Era Digital

Oleh: Mutia Fadhilah

Salawat dulang telah berabad-abad menjadi denyut nadi dakwah dan hiburan masyarakat Minangkabau. Namun kini, seni tradisi yang dahulu menggema di surau-surau malam hari mulai kehilangan pendengarnya. Di tengah perubahan zaman, tantangan terbesar bagi salawat dulang bukan hanya mempertahankan bentuk, tapi menemukan cara baru agar tetap relevan bagi generasi muda.

Di era digital, anak muda lebih akrab dengan musik pop, EDM, dan konten visual cepat daripada syair-syair keagamaan. Hal ini membuat salawat dulang terpinggirkan, dianggap “kuno” dan terlalu panjang.
Padahal, di balik tabuhan dulang dan lantunan syairnya tersimpan kekuatan retorika, estetika, dan spiritualitas yang sangat tinggi. Salawat dulang sejatinya mengajarkan public speaking, improvisasi, puisi lisan, serta kedalaman berpikir religius.

Kurangnya wadah pembelajaran menjadi faktor lain yang mempercepat kemunduran tradisi ini. Banyak generasi tua yang masih mahir, namun tidak memiliki murid pelanjut. Sebagaimana diakui beberapa seniman tradisi di Padang Panjang, “anak muda kini malu duduk bersila semalaman di surau, mereka lebih senang menatap layar.”

Untuk menjawab tantangan tersebut, beberapa akademisi dan komunitas mulai melakukan terobosan. ISI Padang Panjang misalnya, melalui dosen-dosen karawitannya, aktif mendigitalisasi dokumentasi salawat dulang, agar bisa diakses secara global. Langkah ini penting bukan hanya untuk arsip, tapi juga untuk memperluas audiens di YouTube dan media sosial, ruang baru di mana anak muda menghabiskan waktunya.

Selain itu, kolaborasi antara salawat dulang dengan musik kontemporer atau teatrikal mulai dilakukan tanpa menghilangkan inti dakwahnya. Upaya seperti ini diharapkan membuat salawat dulang kembali “hidup” tanpa kehilangan jati diri.

Lebih dari sekadar hiburan, salawat dulang adalah media pendidikan karakter yang efektif.
Syair-syairnya menanamkan nilai sopan santun, tanggung jawab, cinta tanah air, dan religiusitas. Jika diajarkan sejak dini di sekolah atau pesantren, salawat dulang bisa menjadi alternatif pembelajaran budaya yang menyenangkan dan penuh makna.

Kini, harapan bagi kelangsungan salawat dulang ada di tangan generasi muda. Jika dulunya kesenian ini tumbuh di surau, kini ia bisa hidup di layar smartphone. Menonton, merekam, dan membagikan salawat dulang berarti turut menjaga warisan spiritual Minangkabau agar tidak hilang di tengah gemuruh modernitas.

Salawat dulang adalah suara emas surau yang mengingatkan kita bahwa keindahan sejati tak hanya lahir dari irama, tetapi juga dari pesan moral yang disampaikan dengan ketulusan hati. Selama masih ada yang menabuh dulang dan melantunkan shalawat, selama itu pula suara Minangkabau akan tetap bergema, tidak hanya di ranahnya, tapi juga di seluruh dunia.