Langkah Strategis Presiden Prabowo Percepat Proyek Hilirisasi Senilai Rp600 Triliun, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Glitik - Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah tegas untuk mempercepat penyelesaian 18 proyek hilirisasi strategis nasional yang mencakup berbagai sektor kunci seperti energi, mineral, pertanian, dan perikanan. Proyek-proyek ini membawa investasi besar lebih dari Rp 600 triliun dan ditargetkan selesai pada akhir tahun 2025, menandai upaya serius pemerintah dalam mengakselerasi pertumbuhan dan pemerataan ekonomi.
Dalam Rapat Terbatas di Istana Merdeka pada 6 November 2025, Presiden Prabowo secara langsung menginstruksikan percepatan proyek tersebut. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa fokus utama berada pada hilirisasi sektor perikanan, pertanian, serta energi dan mineral batu bara, dengan seluruh proyek yang telah melewati tahap pra studi kelayakan (pre-FS) diharapkan beroperasi mulai tahun 2026.
“Dengan percepatan 18 proyek bernilai lebih dari Rp 600 triliun ini, kita mendorong pertumbuhan ekonomi baru, menciptakan ratusan ribu lapangan kerja, dan mengurangi ketergantungan terhadap impor,” tegas Bahlil, menegaskan manfaat strategis dari proyek ini.
Sebagian besar proyek, sekitar 67 persen, ditempatkan di luar Pulau Jawa untuk memastikan pembangunan lebih merata di seluruh Indonesia. Dari total 18 proyek, 12 fokus di sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM), termasuk 8 proyek minerba, 2 proyek transisi energi, serta 2 proyek ketahanan energi, yang secara bersama-sama berpotensi menciptakan lebih dari 270 ribu lapangan kerja baru.
Salah satu inisiatif penting adalah pembangunan pabrik Dimethyl Ether (DME) untuk menggantikan penggunaan LPG impor. Bahlil menyoroti kebutuhan mendesak ini dengan memperkirakan konsumsi LPG akan mencapai hampir 10 juta ton per tahun pada 2026, menjadikan mandiri energi domestik sebuah keharusan.
Sebelumnya, Presiden Prabowo juga meresmikan pabrik New Ethylene Project milik PT Lotte Chemical Indonesia di Cilegon, Banten. Dengan investasi US$ 3,9 miliar atau sekitar Rp 62,4 triliun, pabrik Naphtha Cracker terbesar di Asia Tenggara ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan hilirisasi industri petrokimia nasional. Produk-produk seperti etilena dan propilena yang dihasilkan akan menopang industri plastik, tekstil, dan farmasi dalam negeri.
Melalui langkah-langkah ini, Presiden Prabowo menunjukkan komitmen kuat dalam memperkuat kemandirian ekonomi Indonesia dan menciptakan masa depan yang lebih produktif dan berkelanjutan bagi seluruh rakyat.