Kopi Minang 1840: Dari Cangkir ke Gerakan Sosial, Saat Warisan Leluhur Diseduh Kembali

Kopi Minang 1840: Dari Cangkir ke Gerakan Sosial, Saat Warisan Leluhur Diseduh Kembali

Oleh : iTheoS

Glitik - Aroma kopi menyeruak memenuhi udara di Gedung Youth Center, tempat berlangsungnya Talkshow Coffee Talk yang digelar Asosiasi Kopi Minang (AKM) dalam rangka Sumbar Expo 2025. Di antara gelas-gelas kopi yang mengepul hangat, tersaji pula gagasan besar: bagaimana menjadikan kopi Minang bukan sekadar minuman, tapi gerakan budaya dan ekonomi yang berpijak pada sejarah panjang Sumatera Barat.

Mengangkat tema “Membumikan Literasi Kopi Minang, Dengan Sejarah yang Mentereng dan Keunggulan Geografis,” kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber lintas bidang Khairul Jasmi, wartawan senior; Novrial SE, M.Ak, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumbar; serta Prof. Ganefri, Ph.D, akademisi Universitas Negeri Padang.

akm
Talkshow Coffee Talk yang digelar Asosiasi Kopi Minang (AKM) dalam rangka Sumbar Expo 2025

Menghidupkan Kembali Jejak 1840

Dalam pemaparannya, Prof. Ganefri menegaskan bahwa Sumatera Barat memiliki sejarah kopi yang gemilang. “Sejak tahun 1840, kopi dari tanah Minang sudah dikenal di pelabuhan Eropa. Tapi kini, kita seolah lupa pada akar kejayaan itu,” ujarnya.

Untuk menghidupkan kembali identitas tersebut, ia mengusulkan gagasan “Kopi Sumbar 1840” sebagai merek payung yang merepresentasikan kebanggaan lokal. Menurutnya, label ini bukan hanya strategi pemasaran, melainkan simbol kebangkitan ekonomi berbasis budaya Minangkabau.

Berdasarkan data Dinas Perkebunan Sumbar (2024), luas lahan kopi di provinsi ini mencapai sekitar 28.000 hektare, dengan produksi tahunan sekitar 18.000 ton. Namun, sebagian besar masih dipasarkan dalam bentuk biji mentah. “Nilai tambah kopi justru ada di proses lanjutan seperti roasting dan pengemasan. Di sinilah pentingnya peran pelaku UMKM dan komunitas kopi,” ujar Novrial, yang juga memaparkan rencana memperkuat kemitraan antara petani dan pelaku industri.

Dari Literasi ke Gerakan Kaum

Wartawan senior Khairul Jasmi dalam diskusi itu mengajak masyarakat kembali ke akar sosial Minang: gotong royong dan kebersamaan. “Menanam kopi harus jadi gerakan bersama. Bukan hanya petani, tapi seluruh masyarakat yang ingin melihat ekonomi nagari tumbuh,” ucapnya.

Gagasan tersebut mendapat dukungan penuh dari Prof. Ganefri, yang memperkenalkan konsep “Satu Kaum, Satu Lahan Kopi.”
“Banyak tanah Kaum yang terbengkalai. Kalau dimanfaatkan untuk kebun kopi, hasilnya bisa dikelola bersama oleh anak kemenakan. Ini bukan hanya ekonomi, tapi penguatan identitas Minang,” jelasnya.

Pendekatan berbasis komunitas seperti ini dinilai sejalan dengan hasil riset Balittri Kementan (2023), yang menyebutkan bahwa potensi kopi arabika Sumbar khususnya dari Solok, Agam, dan Tanah Datar masuk kategori premium dengan cita rasa khas floral dan karamel. Sayangnya, kebutuhan pasar lokal belum sepenuhnya bisa dipenuhi oleh produksi daerah sendiri.

Kopi sebagai Gaya Hidup dan Warisan Budaya

Tak hanya membahas produksi, Prof. Ganefri juga mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap kopi. Ia mendorong budaya minum kopi murni tanpa campuran sebagai gaya hidup sehat sekaligus wujud apresiasi terhadap hasil bumi sendiri.
“Minum kopi bukan sekadar kebiasaan, tapi bentuk literasi rasa. Kalau masyarakat memahami kopi lokalnya, maka industri kopi Minang akan tumbuh lebih kuat,” ujarnya menutup sesi diskusi.

Talkshow yang berlangsung hangat itu meninggalkan pesan penting: kopi adalah identitas, bukan sekadar komoditas. Dari wacana branding hingga gerakan sosial berbasis Kaum, kopi Minang kini bertransformasi menjadi simbol kolaborasi antara budaya, ekonomi, dan keberlanjutan.