Kehadiran truk impor asal China di Indonesia menimbulkan kekhawatiran serius bagi para pabrikan lokal. Bahkan, dampaknya sudah terasa nyata dengan mulai “makan” korban di industri otomotif dalam n

Kehadiran truk impor asal China di Indonesia menimbulkan kekhawatiran serius bagi para pabrikan lokal. Bahkan, dampaknya sudah terasa nyata dengan mulai “makan” korban di industri otomotif dalam n

Oleh : ekachn

Glitik - Kehadiran truk impor asal China di Indonesia menimbulkan kekhawatiran serius bagi para pabrikan lokal. Bahkan, dampaknya sudah terasa nyata dengan mulai “makan” korban di industri otomotif dalam negeri.

Pengamat otomotif, Yannes Pasaribu, menyoroti ketidakselarasan regulasi dari berbagai kementerian seperti Kementerian ESDM, Kementerian Perhubungan, dan Kementerian Perindustrian terkait kendaraan komersial yang digunakan di area off-road seperti tambang. Regulasi yang belum sinkron itu menyebabkan tekanan besar bagi produsen Jepang.

Menurut Yannes, truk China yang digunakan khusus di area tambang tertutup tidak sepenuhnya tunduk pada regulasi emisi yang ketat, sehingga masih banyak yang memakai mesin dengan standar Euro 2 atau Euro 3.

“Ini menciptakan ketimpangan kompetitif yang cukup tajam karena truk impor China dijual dengan harga 30-50 persen lebih murah tanpa harus memenuhi sertifikasi emisi ketat. Sedangkan produsen Jepang mengalami biaya produksi meningkat untuk memenuhi standar Euro 4 yang sudah diberlakukan pemerintah,” jelasnya.

Produsen Jepang, termasuk Mitsubishi Fuso, saat ini mulai merasakan dampak dari persaingan yang tidak seimbang ini. Keresahan para pelaku industri juga sudah disampaikan ke Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), namun solusi konkret dari pemerintah belum ada.

Menurut Aji Jaya, Sales & Marketing Director PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors, mereka masih menunggu langkah nyata dari pemerintah untuk mengatasi persoalan ini. “Kita berharap pemerintah segera bertindak sebelum industri lokal semakin terpuruk,” katanya.

Segmen kendaraan komersial merupakan industri padat karya yang mendukung perekonomian nasional. Namun, pasar yang didominasi truk impor China mengancam kelangsungan pabrikan lokal sekaligus mengurangi lapangan kerja.

Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, memperkirakan hingga Juli 2025 sudah sekitar 7 ribu unit truk impor masuk Indonesia, dan diperkirakan mencapai 14 ribu unit sampai akhir tahun.

Dampak dari ketidakseimbangan ini bukan hanya pada pabrikan kendaraan, tetapi juga produsen komponen. Rachmat Basuki, Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM), menyatakan beberapa perusahaan komponen dump truck bahkan terpaksa mengurangi karyawan hampir separuhnya.

Dia menambahkan, “Penghentian impor truk CBU (Completely Built Up) sangat dibutuhkan agar industri komponen dan karoseri bisa bangkit kembali.”

Kondisi ini menjadi peringatan bagi pemerintah untuk segera mengambil langkah strategis demi menjaga keberlangsungan industri otomotif lokal dan melindungi lapangan kerja di sektor padat karya ini.