Jaguank Bangkitkan Talempong ke Panggung Dunia Lewat Konsep “Awakening of Talempong”
Glitik - Musik tradisional Minangkabau kembali menggema di panggung nasional dan internasional lewat penampilan spektakuler grup musik etnik Jaguank. Mengusung konsep “Awakening of Talempong”, grup asal Sumatra Barat ini sukses mencuri perhatian publik saat tampil di Festival Musik Tradisi Indonesia – Pitunang Ethnogroove 2025 yang digelar di Lapangan Ateh Ngarai, Bukittinggi, awal Agustus lalu.
Didirikan pada 2012 oleh Agung Perdana, Jaguank mengusung semangat eksplorasi terhadap talempong alat musik pukul khas Minangkabau dengan memadukan permainan tradisional dan elemen musik modern dari Barat maupun Timur. Konsep ini tidak sekadar kolaborasi lintas genre, melainkan upaya membebaskan talempong dari batasan adat tanpa menghilangkan ruh budaya Minang.
Dalam penampilannya di Pitunang Ethnogroove, Jaguank menghadirkan pertunjukan epik dengan sentuhan visual dramatis, seperti efek api pada instrumen talempong. Aksi panggung tersebut sontak menjadi viral di media sosial setelah video mereka diunggah di kanal resmi festival dan dibagikan luas di Instagram serta X (Twitter). Penonton memuji penampilan Jaguank sebagai simbol kebangkitan musik tradisi Minang di era digital.
Festival Pitunang Ethnogroove sendiri merupakan bagian dari Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) yang diselenggarakan bergilir di empat provinsi. Tahun ini, acara bertema “Pitunang Ethnogroove” di mana pitunang berarti pesona juga menampilkan grup lain seperti MJ Project, Ragam Raso, Silek Galombang, Saandiko, hingga pertunjukan Gandang Tambua massal.
Tak hanya bersinar di dalam negeri, Jaguank telah menorehkan prestasi di berbagai panggung internasional, seperti Asian Championship of Folklore di Mongolia, Echoes of Asian Bronze di Malaysia, Tong Tong Fair di Belanda, hingga tampil di EXPO 2025 Osaka, Jepang, bersama Lab Art Project. Mereka bahkan meraih penghargaan bergengsi seperti Silver Cup dan 1st Grade Diploma di ajang Asia Folk.
Menurut Direktur Festival Pitunang Ethnogroove, Indra Arifin, penampilan Jaguank menjadi bukti bahwa musik tradisional mampu beradaptasi tanpa kehilangan akar budaya. “Festival ini adalah ruang pertemuan lintas generasi. Dari pengetahuan lokal lahir kreasi baru,” ujarnya.
Dengan visi menjadikan talempong sebagai soft power diplomasi budaya Indonesia, Jaguank terus aktif memperkenalkan musik etnik Minang ke dunia melalui media sosial dan tur internasional. Melalui inovasi mereka, talempong kini tidak lagi sekadar warisan, tetapi simbol kebanggaan dan kebangkitan budaya Minangkabau di pentas global.