Hari Kemanusiaan Sedunia: Cermin Duka Gaza dan Seruan untuk Kepedulian Global

Hari Kemanusiaan Sedunia: Cermin Duka Gaza dan Seruan untuk Kepedulian Global

Oleh : iTheoS

Hari Kemanusiaan Sedunia: Cermin Duka Gaza dan Seruan untuk Kepedulian Global

oleh : Red

Gaza di Tengah Pusaran Krisis Kemanusiaan

Memasuki Oktober 2025, dunia kembali menatap Gaza dengan penuh keprihatinan. Konflik yang tak kunjung reda telah menimbulkan dampak kemanusiaan yang luar biasa besar. Ribuan warga sipil, termasuk anak-anak dan perempuan, menjadi korban serangan udara dan blokade yang berkepanjangan.

Menurut laporan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), lebih dari 35.000 warga Palestina tewas dan ratusan ribu lainnya mengungsi sejak pecahnya kembali eskalasi konflik di wilayah tersebut. Infrastruktur penting seperti rumah sakit, sekolah, dan jaringan listrik hancur, membuat situasi kemanusiaan semakin genting.

“Warga Gaza kini hidup tanpa jaminan air bersih, makanan, dan perawatan medis yang layak. Ini adalah krisis kemanusiaan terbesar dalam sejarah modern wilayah tersebut,” ungkap OCHA dalam laporan resminya (OCHA Palestine, Oktober 2025).

Peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia, Momentum untuk Bertindak

Setiap 19 Oktober, dunia memperingati Hari Kemanusiaan Sedunia (World Humanitarian Day) — sebuah momen untuk mengenang para relawan, tenaga medis, dan pekerja kemanusiaan yang mengorbankan waktu, tenaga, bahkan nyawa untuk menolong sesama.

Di tengah duka Gaza, peringatan ini menjadi pengingat bahwa kemanusiaan tidak boleh dibungkam oleh perang. Ribuan relawan dari berbagai lembaga, termasuk Palang Merah Internasional (ICRC), UNICEF, dan Relawan Indonesia di bawah koordinasi Kementerian Luar Negeri RI, terus berjuang mengirimkan bantuan meski akses ke wilayah Gaza sangat terbatas.

Kementerian Luar Negeri RI dalam pernyataannya menegaskan komitmen Indonesia untuk terus menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Palestina.

“Indonesia akan terus berdiri bersama rakyat Palestina dan mendukung semua upaya kemanusiaan yang menghormati nilai-nilai kemanusiaan universal,” tulis pernyataan resmi Kemlu RI (kemlu.go.id, 17 Oktober 2025).

Anak-Anak, Korban Terbesar dari Krisis Kemanusiaan

Menurut UNICEF, lebih dari 1 juta anak di Gaza kini hidup dalam ketakutan dan trauma mendalam. Banyak di antara mereka kehilangan keluarga dan tempat tinggal. Kondisi sanitasi yang buruk serta kekurangan gizi menjadi ancaman serius bagi masa depan generasi muda Palestina.

“Setiap anak di Gaza kini menghadapi risiko kehilangan masa depan mereka. Mereka bukan hanya kehilangan tempat tidur, tapi juga kehilangan rasa aman,” ujar Catherine Russell, Direktur Eksekutif UNICEF (unicef.org, Oktober 2025).

Harapan dari Tanah Air: Relawan dan Donasi Mengalir dari Indonesia

Dari Indonesia, berbagai lembaga kemanusiaan seperti Baznas, Dompet Dhuafa, dan ACT terus menyalurkan bantuan logistik, obat-obatan, serta dana kemanusiaan untuk warga Gaza. Masyarakat Indonesia dikenal sebagai salah satu yang paling dermawan di dunia, dan momentum Hari Kemanusiaan Sedunia menjadi ajakan bagi semua pihak untuk memperkuat solidaritas global.

Relawan lokal juga menyerukan pentingnya menjaga semangat kemanusiaan.

“Memberi bukan soal besar atau kecilnya bantuan, tapi tentang keberanian untuk peduli,” ungkap salah satu relawan asal Indonesia yang bertugas di Rafah, perbatasan Mesir–Gaza.

Menyalakan Harapan di Tengah Gelapnya Krisis

Peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia 2025 bukan sekadar seremonial, melainkan panggilan moral bagi seluruh umat manusia untuk tidak menutup mata terhadap penderitaan Gaza. Melalui donasi, dukungan moral, atau doa, setiap tindakan kecil dapat menjadi cahaya harapan bagi mereka yang tengah berjuang bertahan hidup.

Seperti yang disampaikan Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dalam peringatan Hari Kemanusiaan Dunia,

“Kemanusiaan adalah jantung dari peradaban kita. Di mana ada penderitaan, di sanalah kita harus hadir.” (United Nations, WHD 2025).

Hari Kemanusiaan Sedunia tahun ini menjadi refleksi penting: kemanusiaan tidak mengenal batas negara atau agama. Gaza hanyalah satu dari sekian banyak wilayah yang membutuhkan kepedulian dunia. Melalui aksi nyata dan solidaritas global, harapan untuk perdamaian dan kemanusiaan sejati masih bisa terjaga.