Genetika manusia dan obesitas
Genetika manusia dan obesitas
Redaksi
Berat badan berlebih bukan hanya masalah pola makan dan gaya hidup, tapi juga dipengaruhi oleh faktor genetik. Studi besar di Estonia dengan lebih dari 200.000 peserta mengungkap bagaimana DNA berperan dalam kenaikan berat badan, membuka wawasan penting bagi orang yang mengalami kesulitan mengontrol berat.
Peran Genetik dalam Berat BadanSelama ini, pencarian “gen obesitas” tunggal selalu menemui kendala. Penelitian terbaru justru menunjukkan bahwa berat badan dipengaruhi oleh kombinasi banyak gen yang bekerja bersama, selain faktor lingkungan seperti pola makan, stres, dan aktivitas fisik.
Gen yang Mempengaruhi Nafsu Makan dan Berat BadanSalah satu gen yang penting adalah MC4R. Sekitar 3,5% orang Estonia memiliki varian ini yang membuat mereka merasa kenyang lebih cepat sehingga cenderung makan lebih sedikit dan memiliki BMI lebih rendah.
Sebaliknya, gen POMC yang terdapat pada 0,85% penduduk, justru menyebabkan seseorang merasa lapar lebih lama. Varian ini dapat membuat perempuan bertambah berat sekitar 3 kilogram dan pria sekitar 1 kilogram.
Peneliti membandingkan efek gen POMC ini dengan perilaku anjing Labrador Retriever yang sangat termotivasi oleh makanan.
Implikasi untuk Terapi ObesitasPenemuan gen-gen baru yang terkait dengan pengaturan rasa lapar di otak membuka peluang terapi obesitas yang lebih personal.
Terapi masa depan bisa menyesuaikan dengan profil genetik seseorang, misalnya dengan obat modern seperti semaglutide yang kini sedang dipelajari efektivitasnya berdasarkan variasi gen.
Pesan untuk Anda yang Memiliki Berat Badan Berlebih
Memahami bahwa gen juga memengaruhi berat badan bisa membantu menghilangkan stigma dan rasa bersalah. Meski gen tak bisa diubah, gaya hidup sehat tetap kunci utama.
Penyesuaian pola makan, aktivitas fisik, dan pengelolaan stres masih perlu dilakukan. Namun, pendekatan personal berbasis DNA mungkin akan menjadi solusi lebih efektif di masa depan.