Filsafat Gerak dalam Silek Tuo dan Sitaralak: Antara Lembut dan Tajam

Filsafat Gerak dalam Silek Tuo dan Sitaralak: Antara Lembut dan Tajam

Oleh :

Filsafat Gerak dalam Silek Tuo dan Sitaralak: Antara Lembut dan Tajam

Oleh: Dzaky Herry Marino

Di balik perbedaan teknis antara silek Tuo dan silek Sitaralak, terdapat kesamaan yang lebih dalam, keduanya berakar pada cara pandang Minangkabau terhadap kehidupan. Gerak dalam silek bukan sekadar teknik pertahanan atau serangan, tetapi simbol perjalanan spiritual manusia.

Dalam silek Tuo, setiap gerakan adalah bentuk kesadaran. Saat seorang pesilat menangkis, ia tidak hanya menolak serangan, tetapi juga menolak sifat buruk dalam dirinya, amarah, dendam, dan kesombongan. Gerakannya yang halus melambangkan prinsip “tenang dalam badai,” bahwa kekuatan sejati justru terletak pada kendali diri.

Sebaliknya, silek Sitaralak mengajarkan filosofi tindakan cepat namun penuh perhitungan. Serangan yang tepat waktu bukan tanda agresi, melainkan simbol keberanian untuk mengambil keputusan dalam hidup. Setiap pukulan adalah manifestasi dari tekad dan keyakinan, bukan kemarahan.

Jika silek Tuo adalah air yang menenangkan, maka silek Sitaralak adalah api yang menegaskan. Dua elemen ini saling melengkapi dalam filosofi Minangkabau, mengajarkan keseimbangan antara ketenangan dan ketegasan.

Dalam masyarakat modern, pesan ini tetap relevan. Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh kompetisi, kita diingatkan oleh nilai-nilai silek, berpikir sebelum bertindak, sabar sebelum menyerang, dan rendah hati dalam kemenangan. “Gerakan silek bukan hanya untuk bertahan atau menyerang,” kata Deni Rahmat,
“tetapi untuk memahami kapan harus diam, kapan harus melangkah, dan kapan harus berhenti.”

Dengan demikian, silek Tuo dan silek Sitaralak bukan dua jalan yang berbeda, melainkan dua cara pandang yang sama terhadap satu tujuan, menjadi manusia yang kuat, tetapi tetap berbudi.