Fenomena Supermoon Terjadi Lagi: Indah di Langit, Tapi Bisa Berdampak pada Alam

Fenomena Supermoon Terjadi Lagi: Indah di Langit, Tapi Bisa Berdampak pada Alam

Oleh : dhiwa

Glitik - Langit malam kembali menyuguhkan pemandangan menakjubkan. Fenomena Supermoon atau bulan super diprediksi akan kembali terlihat pada Rabu malam, 8 Oktober 2025, saat bulan tampak lebih besar dan lebih terang dari biasanya.

Fenomena ini selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh penggemar astronomi, fotografer, hingga masyarakat umum yang sekadar ingin menikmati keindahan langit malam. Namun di balik pesonanya, Supermoon juga bisa membawa dampak alam tertentu yang perlu diperhatikan.

Apa Itu Supermoon?

Supermoon terjadi ketika bulan mencapai titik terdekatnya dengan Bumi dalam orbit elipsnya disebut perigee dan bertepatan dengan fase bulan purnama.
Hasilnya, bulan terlihat sekitar 14% lebih besar dan 30% lebih terang dibandingkan purnama biasa.

Jarak bulan dari Bumi saat Supermoon bisa mencapai 356.000 kilometer, lebih dekat sekitar 27.000 kilometer dibandingkan posisi terjauhnya (apogee).

Fenomena ini biasanya hanya terjadi 3–4 kali dalam setahun.

Dampak Alam Akibat Supermoon

Meski indah untuk disaksikan, Supermoon juga menghadirkan beberapa efek alami di Bumi. Berikut dampak yang paling umum terjadi:

1. Pasang Air Laut Lebih Tinggi (Pasang Perigee)

Supermoon memiliki gravitasi yang lebih kuat terhadap permukaan laut. Hal ini dapat menyebabkan gelombang pasang lebih tinggi dari normal, yang dikenal sebagai perigean spring tide.

Di wilayah pesisir, udara laut bisa naik beberapa sentimeter hingga lebih dari satu meter.

Efek ini dapat memperparah banjir rob di daerah pantai rendah seperti pesisir utara Jawa, Padang, Semarang, dan Jakarta Utara.

BMKG biasanya mengeluarkan peringatan dini pasang air laut saat fenomena Supermoon mendekat.

2. Perubahan Tekanan Udara dan Cuaca

Gravitasi bulan yang lebih kuat dapat mempengaruhi sirkulasi udara dan pola cuaca lokal, meskipun dampaknya tidak besar.
Beberapa wilayah bisa mengalami angin kencang, hujan singkat, atau gelombang tinggi di laut lepas.

3. Efek pada Satwa dan Aktivitas Manusia

Beberapa penelitian menunjukkan hewan nokturnal (aktif di malam hari), seperti burung laut, kura-kura, dan ikan, cenderung lebih aktif saat Supermoon karena cahaya bulan lebih terang.
Sementara bagi manusia, fenomena ini kadang mempengaruhi pola tidur sebagian orang merasa lebih sulit tidur karena intensitas cahaya malam yang meningkat.

Supermoon Oktober 2025: Disebut “Hunter's Moon”

Supermoon pada Oktober 2025 juga dikenal dengan sebutan Hunter's Moon, istilah yang berasal dari tradisi Eropa kuno, di mana masyarakat memanfaatkan terang bulan purnama untuk berburu setelah masa panen.

Fenomena ini dapat disaksikan dengan mata telanjang, tanpa alat bantu apa pun. Waktu terbaik untuk melihatnya adalah sekitar pukul 19.00–22.00 waktu setempat, ketika bulan mulai terbit di ufuk timur.

Tips Melihat dan Mengabadikan Supermoon

  • Cari lokasi terbuka, jauh dari polusi cahaya perkotaan.
  • Gunakan tripod atau stabilizer jika ingin memotret bulan dengan ponsel.
  • Jika menggunakan kamera DSLR, gunakan lensa telefoto (200–300mm) untuk hasil lebih detail.
  • Pastikan cuaca cerah awan tebal akan menghalangi pandangan.

Pesona Langit, Pengingat Keseimbangan Alam

Supermoon adalah pengingat bahwa Bumi dan Bulan terikat pada harmoni gravitasi yang mempengaruhi pasang surut, cuaca, dan bahkan kehidupan di planet ini.

Meski tampak sebagai tontonan indah di langit, fenomena ini juga mengingatkan kita untuk waspada terhadap perubahan alam, terutama bagi masyarakat di wilayah pesisir.