Digitalisasi Pemilu 2029: Terobesan Efisiensi dan Partisipasi Masyarakat yang Tak Terbendung

Digitalisasi Pemilu 2029: Terobesan Efisiensi dan Partisipasi Masyarakat yang Tak Terbendung

Oleh : dhiwa

Glitik - Wacana penerapan digitalisasi dalam Pemilu 2029 semakin menguat dan dianggap bukan hal yang mustahil untuk direalisasikan. Sistem pemungutan suara berbasis teknologi diyakini mampu meningkatkan partisipasi masyarakat secara signifikan sekaligus memangkas anggaran negara melalui efisiensi.

Direktur Eksekutif Pusat Penelitian Kebijakan Publik Lembaga Indonesia, Adinda Tenriangke Muchtar, menekankan semangat utama di balik digitalisasi pemilu yaitu efisiensi dan semakin meluasnya keterlibatan publik.

“Kalau kita bicara digitalisasi pemilu, semangatnya adalah meningkatkan partisipasi dan membuat lebih hemat karena ada efisiensi,” ujar Adinda dalam diskusi di Media Center KPU, Jakarta Pusat, Selasa (28/10/2025).

Meski begitu, Adinda mengingatkan bahwa penerapan teknologi ini harus dilakukan secara matang dan tidak tergesa-gesa. Kesiapan infrastruktur dan aspek sistem keamanan menjadi faktor krusial agar proses pemilu berjalan lancar dan kredibel.

“Kita perlu menyadari bahwa digitalisasi pemilu melibatkan teknologi yang memiliki tantangan tersendiri,” tambahnya.

Salah satu tantangan yang berulang adalah maraknya penyebaran hoaks atau berita bohong yang dapat merusak kualitas pemilu. Adinda menegaskan, masalah ini hanya bisa diatasi melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk penyelenggara pemilu, pemerintah, dan sipil masyarakat.

Kunci utama keberhasilan digitalisasi pemilu, menurutnya, adalah penguatan literasi masyarakat digital. Tanpa meningkatnya kesadaran digital, harapan untuk menciptakan pemilu berbasis teknologi yang efektif akan sulit terwujud.

“Kita punya kesempatan bonus demografi 2030. Pertanyaannya, kita jadi generasi emas atau generasi yang cemas? Kalau masih dibombardir hoaks dan literasi rendah, bagaimana mau cerdas?” pungkas Adinda.