Perang Melawan Hoaks Kanker Serviks di Era AI: Media Jadi Garda Terdepan!
Glitik - Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), konten kesehatan yang beredar di ruang publik semakin ramai, namun belum tentu akurat. Pada momentum Hari Kanker Leher Rahim Sedunia, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Veronica Tan, mengingatkan bahwa perang melawan kanker serviks tidak hanya terjadi di fasilitas kesehatan, tetapi juga di dunia digital yang penuh misinformasi.
Veronica mengatakan peran media sangat penting untuk menghadirkan pemberitaan kesehatan yang akurat, empatik, dan berbasis bukti ilmiah. Dia menyoroti misinformasi seputar imunisasi HPV, deteksi dini, hingga pengobatan yang kerap menimbulkan ketakutan dan menghambat upaya eliminasi kanker leher rahim di Indonesia.
Indonesia menghadapi beban kanker serviks tertinggi di Asia dengan sekitar 36.000 kasus baru dan 21.000 kematian setiap tahunnya berdasarkan data WHO dan UNFPA. Pemerintah telah menyusun strategi eliminasi berbasis Pengarusutamaan Gender (PUG) melalui Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kanker Leher Rahim 2023–2030, penjangkauan kelompok rentan, serta penguatan peran media dan edukasi publik.
Kementerian Kesehatan menargetkan agar pada 2030, 90 persen anak perempuan usia 12 tahun mendapatkan imunisasi HPV, 75 persen perempuan usia 30–69 tahun menjalani skrining HPV DNA, dan 90 persen pasien kanker leher rahim menerima pengobatan tepat waktu. Namun, tantangan besar datang dari hoaks yang menciptakan kebingungan, termasuk isu moral dan efek samping vaksin HPV yang tidak terbukti.
Media mendapat kepercayaan besar untuk menyajikan informasi yang jernih dan memverifikasi klaim, sehingga masyarakat tidak menjadi korban misinformasi. Direktur External Affairs MSD Indonesia, Dudit Triyanto, juga mengingatkan bahwa AI bisa membantu mencari informasi, namun juga dapat mempercepat penyebaran hoaks.
Veronica Tan menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor, pelatihan jurnalis, dan edukasi publik yang sensitif gender sangat diperlukan untuk mengatasi kesenjangan akses informasi dan stigma di masyarakat, khususnya bagi kelompok rentan di wilayah terpencil. Ia menegaskan bahwa upaya eliminasi kanker serviks berawal dari akses informasi yang benar dan tepat.
Momentum Hari Kanker Leher Rahim Sedunia menjadi pengingat bahwa perlindungan perempuan tidak hanya tanggung jawab layanan kesehatan, tapi juga kualitas pengetahuan publik. Media menjadi garda terdepan memastikan informasi tersampaikan dengan benar dan mencerdaskan masyarakat.