Pandeka dan Surau: Ruh Silek yang Mulai Pudar di Minangkabau Modern
Pandeka dan Surau: Ruh Silek yang Mulai Pudar di Minangkabau Modern
Oleh: Ari Yuliasril
Di masa lalu, setiap anak muda Minangkabau mengenal dua hal yang menjadi simbol kedewasaan yaitu surau dan silek.
Surau adalah tempat belajar agama dan adat, sementara silek adalah tempat perjalanan perjalanan menjadi pandeka, yaitu pribadi yang tangguh, berakal, dan beradab. Kini, keduanya mulai kehilangan makna di tengah derasnya arus modernisasi.
Surau Sebagai Sekolah Karakter
Dahulu, surau bukan sekedar rumah ibadah. Ia adalah tempat para pemuda belajar silek, mengaji, dan mengasah budi pekerti. Seorang anak yang sudah akil baligh akan meninggalkan rumah dan tinggal di surau, dibimbing oleh guru tuo.
Sistem ini melahirkan generasi yang disiplin, sabar, dan peka terhadap kehidupan sosial.
Namun, kini surau lebih sering kosong di malam hari. Anak-anak muda memilih tidur di rumah, sibuk dengan ponsel dan internet. Nilai-nilai silek yang mengajarkan kesabaran dan rasa hormat pada guru mulai terkikis.
Antara Silek dan Silat
Bagi sebagian orang muda Minang masa kini, istilah silek sering dianggap sama dengan silat. Padahal keduanya berbeda secara esensial. Silat lebih menekankan aspek olahraga dan pertarungan fisik, sementara silek adalah jalan hidup. Dalam silek, pandeka mengajarkan agar tidak mudah mengendalikan emosi. Ia harus menimbang setiap tindakan, karena musuh terbesarnya bukanlah orang lain, melainkan nafsu diri sendiri.
Saat ini, banyak gelanggang yang hanya fokus pada pertandingan, bukan pendidikan moral. Nilai adat dan keagamaan yang menjadi inti silek mulai memudar.
Meski begitu, harapan belum padam. Di beberapa nagari seperti Pariaman, Payakumbuh, dan Agam, masih ada sasaran silek tradisional yang aktif mengajarkan nilai adat. Guru tuo mengajarkan bukan hanya gerak, tapi juga doa dan makna di baliknya. Mereka menambahkan pepatah lama:
“Elok dipandang dek urang, indak karuah dek awak, kok tinggi ilmu, rendah hati, kok dalam kaji, sombong.”
Menjaga Ruh yang Tersisa
Silek Minangkabau adalah cermin karakter masyarakatnya, lembut tapi kuat, sopan tapi tegas, sabar tapi berani.
Jika generasi muda melupakannya, yang hilang bukan sekedar bela diri, tapi juga akar moral dan jati diri. Sudah saatnya sekolah-sekolah adat dan komunitas pemuda kembali mempelajari silek bukan hanya untuk prestasi, tetapi untuk memahami nilai-nilai kehidupan.
Sebab, silek bukan hanya gerakan tubuh, ia adalah cara memandang terhadap dunia. Dan selama masih ada yang mengajarkan dengan hati, silek Minangkabau akan tetap menjadi dorongan kehidupan adat, di mana kekuatan selalu berjalan berdampingan dengan kebijaksanaan.