Dampak Berat Kenaikan Harga BBM: UMKM Terancam Tekanan Biaya Operasional

Dampak Berat Kenaikan Harga BBM: UMKM Terancam Tekanan Biaya Operasional

Oleh : ekachn

Glitik - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di berbagai SPBU besar seperti Pertamina, Shell, bp, dan Vivo pada Oktober 2025 berdampak signifikan pada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). 

Peningkatan biaya operasional akibat kenaikan harga BBM memicu tantangan baru bagi UMKM yang sejak awal sudah menghadapi tekanan ketat dalam pengelolaan keuangan.

UMKM yang mengandalkan distribusi dan pengiriman barang secara langsung merasakan kenaikan harga BBM sebagai beban biaya yang sulit dihindari. Misalnya, sektor usaha kuliner dan logistik mencatat peningkatan ongkos transportasi yang pada akhirnya harus dialihkan sebagai beban tambahan pada harga produk. 

Kondisi ini berpotensi menurunkan daya beli konsumen dan menghambat pertumbuhan UMKM yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi lokal.

Selain itu, kenaikan harga BBM juga menimbulkan efek domino pada harga bahan baku dan ongkos produksi. Banyak UMKM yang bergantung pada pasokan bahan baku dari wilayah lain harus menyesuaikan harga jual produk untuk menutupi peningkatan biaya transportasi. 

Akibatnya, persaingan di pasar menjadi semakin ketat dan margin keuntungan pun makin menyempit.

Pelaku UMKM mengaku mengkhawatirkan dampak berkelanjutan dari kenaikan BBM ini, terutama di tengah upaya pemulihan ekonomi pascapandemi. 

Beberapa pelaku usaha mulai mencari solusi efisiensi biaya dengan mengurangi frekuensi pengiriman, beralih ke moda transportasi yang lebih hemat bahan bakar, atau mengoptimalkan penggunaan kendaraan listrik bila memungkinkan.

Pemerintah dan lembaga terkait diharapkan memberikan dukungan konkret melalui subsidi, pelatihan manajemen biaya, atau insentif bagi UMKM agar sektor ini dapat bertahan dan terus berkontribusi pada perekonomian nasional. 

Kenaikan harga BBM adalah ujian bagi ketangguhan UMKM dalam beradaptasi menghadapi dinamika pasar sekaligus momentum untuk mendorong transformasi digital dan penggunaan teknologi guna meningkatkan produktivitas.

Dengan perhatian dan langkah yang tepat, UMKM bisa melewati tantangan ini dan tetap menjadi penggerak utama ekonomi inklusif di Indonesia. Namun tanpa dukungan yang memadai, risiko penurunan performa UMKM menjadi ancaman nyata yang harus diwaspadai.