Datuak Suri Dirajo dan Lahirnya Silek Minangkabau di Pariangan

Datuak Suri Dirajo dan Lahirnya Silek Minangkabau di Pariangan

Oleh :

Datuak Suri Dirajo dan Lahirnya Silek Minangkabau di Pariangan

Oleh: Mutia Fadhilah 

Jika kita menelusuri sejarah panjang Minangkabau, hampir setiap nagari memiliki versi tentang asal mula silek. Namun, satu nama selalu muncul dalam berbagai sumber, Datuak Suri Dirajo. Ia bukan hanya pelopor pertama pendirian sasaran silek, tetapi juga simbol bagaimana ilmu bela diri disatukan dengan nilai adat dan moral.

Menurut tradisi lisan yang dituturkan turun-temurun, Datuak Suri Dirajo mendirikan sasaran silek pertama di Pariangan, daerah yang dianggap sebagai nagari tertua di Minangkabau. Tahun pendiriannya diperkirakan sekitar 1119 M, jauh sebelum masa kolonial.

Empat Pengawal dari Empat Negeri

Legenda menyebutkan bahwa empat pengawal dari berbagai wilayah Asia ikut mengembangkan sistem silek Minangkabau:

1. Kambiang Utan membawa teknik bertahan dan kelincahan dari Kamboja.

2. Harimau Campo memperkenalkan gaya serangan rendah dari Negeri Champa.

3. Kuciang Siam dari Thailand menekankan keseimbangan dan kecepatan.

4. Anjiang Mualim dari Persia mengajarkan strategi pertahanan berbasis langkah melingkar.

Kolaborasi lintas bangsa ini melahirkan gaya silek yang unik, memadukan kekuatan, ketepatan, dan kesadaran.

Dari Bela Diri ke Filsafat Hidup

Bagi Datuak Suri Dirajo, silek bukan sekadar seni bertarung. Ia adalah bentuk pendidikan moral bagi anak muda Minang yang akan merantau. Mereka diajarkan untuk tidak hanya menjaga diri, tetapi juga menjaga martabat keluarga dan nagari.

Nilai-nilai ini kemudian melahirkan filosofi “parik paga dalam nagari”, bahwa silek digunakan untuk melindungi masyarakat, bukan menyerang mereka. Prinsip ini masih diajarkan dalam setiap gelanggang tradisional hingga kini.

Meski telah berusia berabad-abad, warisan Datuak Suri Dirajo tetap hidup dalam berbagai aliran silek seperti Silek Harimau, Silek Tuo, dan Silek Kumango. Tiap aliran mengembangkan tekniknya sendiri, namun semuanya berakar pada nilai yang sama, pengendalian diri, kesabaran, dan kehormatan.

Kini, silek Minangkabau telah diakui sebagai bagian dari warisan budaya takbenda Indonesia. Di berbagai festival nasional dan internasional, silek tampil bukan hanya sebagai pertunjukan bela diri, tetapi juga simbol jati diri bangsa Minang yang tangguh, santun, dan beradab.

 “Selama masih ada anak muda Minang yang belajar silek, selama itu pula roh Datuak Suri Dirajo akan tetap hidup,”
ujar seorang guru silek tua di Padang Panjang.