Dari Pepatah ke Perjuangan: “Taimpik Nak di Ateh, Takuruang Nak di Lua” sebagai Cermin Optimisme Urang Minang
Pepatah “Taimpik nak di ateh, takuruang nak di lua” sering disalahpahami. Banyak yang mengira pepatah ini menggambarkan sifat licik, orang yang ingin naik derajat meski harus menekan orang lain. Padahal, seperti dijelaskan Dr. Lindawati, M.Hum, pepatah ini justru mengandung semangat pantang menyerah yang telah lama hidup dalam filosofi masyarakat Minangkabau.
Dari Tekanan Lahir Perubahan
Menurut Dr. Lindawati, pepatah ini menggambarkan dorongan alami manusia untuk mencari jalan keluar dari kesulitan. Ketika seseorang merasa “terhimpit,” ia ingin mencari ruang, ketika “terkurung,” ia ingin menemukan kebebasan. Artinya, manusia tidak boleh pasrah terhadap nasib, melainkan harus berusaha memperbaikinya.
Makna ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Pesan ini senada dengan semangat orang Minangkabau yang sejak dulu dikenal sebagai perantau ulung, berani keluar dari kesempitan kampung demi kehidupan yang lebih baik di rantau orang.
Pepatah ini, dengan demikian, adalah metafora tentang ketahanan hidup (resiliensi). Bahwa setiap keterbatasan bisa menjadi pemicu kemajuan, bukan alasan untuk menyerah.
Hamka dan Etika Perjuangan
Pandangan ini juga sejalan dengan pemikiran Buya Hamka dalam bukunya Lembaga Hidup. Hamka menulis bahwa setiap orang berhak mencapai kemuliaan, tetapi kemuliaan itu harus diraih melalui jalan yang benar. Orang Minang tidak mengajarkan “taimpik nak di ateh” dengan menindas orang lain, melainkan dengan bekerja keras dan menuntut ilmu.
Dalam pepatah lain dikatakan: “Nak pandai rajin baguru, nak kayo kuek mancari, nak mulie batabua urai.” Artinya, kalau ingin pintar harus rajin belajar, kalau ingin kaya harus giat bekerja, dan kalau ingin mulia harus suka berbagi. Itulah etika perjuangan sejati yang melandasi pepatah ini, bahwa keinginan untuk naik bukanlah dosa, asalkan dilakukan dengan cara yang halal dan bermartabat.
Cermin Jiwa Perantau
Dalam konteks sosial, pepatah ini juga mencerminkan jiwa perantau urang Minang. Dari keterhimpitan ekonomi di kampung halaman, lahirlah keberanian untuk merantau dan berjuang. Dari keterbatasan ruang, muncul kreativitas dan kemandirian. Inilah manifestasi nyata dari pepatah tersebut, setiap kesempitan membuka jalan bagi perubahan.
Di tengah dunia modern yang penuh tekanan, pepatah “taimpik nak di ateh, takuruang nak di lua” tetap relevan. Ia mengingatkan bahwa hidup selalu menuntut usaha, bukan keluhan. Kesempitan bukan kutukan, tapi undangan untuk bergerak.
Karena sebagaimana diajarkan oleh leluhur urang Minang:
“Kalau dunia menekan dari luar, bukalah jalan dari dalam. Sebab dalam diri yang sempit pun, selalu ada ruang untuk tumbuh.”