Dari Gelar ke Tanggung Jawab: Refleksi Filosofis Gala Sako di Era Modern

Dari Gelar ke Tanggung Jawab: Refleksi Filosofis Gala Sako di Era Modern

Oleh :

Dari Gelar ke Tanggung Jawab: Refleksi Filosofis Gala Sako di Era Modern

Oleh: Muhammad Fawzan

Gala sako dalam adat Minangkabau bukan sekadar gelar yang disematkan pada seorang laki-laki, melainkan simbol tanggung jawab moral, sosial, dan spiritual. Ia menunjukkan bahwa kehormatan sejati tidak datang dari keturunan atau status, tetapi dari kemampuan seseorang menjaga keseimbangan antara adat, agama, dan kehidupan sosial kaumnya.

Pepatah “Ketek banamo, gadang bagala” menggambarkan perjalanan hidup manusia Minangkabau, dari individu biasa menuju sosok yang siap memikul tanggung jawab sosial. Gala sako tidak dimiliki setiap orang, ia hanya diberikan kepada mereka yang telah membuktikan kelayakannya melalui sikap, perilaku, dan pengabdian terhadap kaum.

Seorang datuk bukan hanya pemimpin formal, tetapi juga benteng moral. Ia menjadi referensi ketika muncul gangguan, menjadi penengah dalam perbedaan, serta pengayom bagi generasi muda. Dalam konteks ini, gala sako adalah amanah, bukan kehormatan kosong.

Menariknya, sistem penyelenggaraan gala sako di Minangkabau sudah menunjukkan demokrasi jauh sebelum konsep itu dikenal secara prinsip modern. Gelaran ini tidak diwariskan secara otomatis, melainkan diputuskan melalui musyawarah mufakat oleh anggota seluruh kaum. Artinya, kekuasaan adat disahkan pada persetujuan bersama, bukan keturunan semata.

Proses ini menampilkan bahwa masyarakat Minangkabau memahami pentingnya legitimasi sosial dan moral. Seorang pemimpin tidak hanya harus pandai berbicara, tetapi juga mampu mambuek nan bana, atau berbuat benar dalam tindakannya.

Modernisasi, urbanisasi, dan pola hidup individualis membuat nilai gala sako mulai terkikis. Banyak generasi muda yang tidak lagi memahami makna di balik gelar ini. Prosesi batagak gala terkadang hanya dianggap sebagai acara seremonial tanpa makna substansial.

Padahal, hilangnya pemahaman terhadap gala sako berarti hilangnya salah satu fondasi moral masyarakat Minangkabau, yakni semangat kepemimpinan yang dicabut pada kebijaksanaan dan pengabdian.

Revitalisasi nilai gala sako perlu dilakukan melalui pendidikan budaya, dokumentasi adat, serta pelibatan generasi muda dalam kegiatan sosial suku. Dengan demikian, mereka tidak hanya mengenal istilah “Datuk” secara simbolik, tetapi memahami tanggung jawab yang melekat padanya.

Karena pada akhirnya, sebagaimana pepatah adat menyebutkan:

“Datuk indak baraja tinggi, tapi baraja rendah; indak manantang angin, tapi manapaki tanah.”