Bitcoin Tertekan! Investor Besar Mulai Ogah, Rp 5.500 T Gagal Dibendung

Bitcoin Tertekan! Investor Besar Mulai Ogah, Rp 5.500 T Gagal Dibendung

Oleh : iTheoS

Glitik - Pasar Bitcoin menghadapi tekanan besar setelah dukungan kuat dari investor institusional yang mendorong reli sepanjang 2025 mulai menghilang. Mata uang kripto terbesar itu kini berjuang keluar dari penurunan nilai hingga US$ 330 miliar (sekitar Rp 5.519,6 triliun), dengan harga yang stagnan sedikit di atas US$ 100.000.

Laporan Bloomberg menyebutkan bahwa pembeli besar seperti pengelola dana ETF dan perusahaan korporasi mulai menahan diri dalam beberapa pekan terakhir. Penurunan arus dana institusional ini melemahkan pondasi utama kenaikan harga Bitcoin tahun ini.

Sepanjang 2025, aliran dana institusional sempat menjadi pendorong utama legitimasi Bitcoin. ETF kripto mengumpulkan dana hingga US$ 25 miliar (sekitar Rp 418,1 triliun), menjadikan total aset kripto hampir US$ 169 miliar (sekitar Rp 2.826,7 triliun). Dana ini membentuk narasi Bitcoin sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi global. Namun, kepercayaan itu kini mulai pudar.

CEO 10X Research Markus Thielen menilai banyak investor profesional mulai kehilangan kesabaran karena Bitcoin hanya tumbuh sekitar 10% sepanjang 2025, jauh di bawah performa emas dan saham teknologi. “Jika harga terus melemah, manajer risiko akan meminta klien institusional untuk memangkas posisi mereka,” ujarnya.

Bitcoin sempat diperdagangkan di bawah US$ 102.000 pada sesi perdagangan Rabu waktu New York. Dalam sebulan terakhir, ETF Bitcoin spot telah menjual aset senilai US$ 2,8 miliar. Thielen memperkirakan penjualan ini bisa berlanjut jika harga tidak pulih sebelum pertemuan The Federal Reserve (The Fed) Desember 2025.

Data jaringan (on-chain) menunjukkan sejumlah pemegang lama mulai melepas aset saat harga masih kuat. Thielen memperingatkan jika Bitcoin turun ke sekitar US$ 93.000, lebih banyak investor akan terpaksa menjual karena risiko kerugian besar.

Analis Citigroup Alex Saunders menambahkan, minat investor baru kini sangat berhati-hati. “Tidak ada lagi urgensi untuk masuk pasar. Banyak yang kehilangan gairah,” katanya. Analisis Citi juga mencatat penurunan jumlah ‘whale’ Bitcoin (dompet lebih dari 1.000 BTC) sementara kepemilikan oleh investor ritel naik.

Salah satu tanda meredupnya minat korporasi terlihat dari saham MicroStrategy, perusahaan milik Michael Saylor yang terkenal membeli Bitcoin dalam jumlah besar. Kini, nilai saham perusahaan hampir setara dengan nilai Bitcoin yang mereka pegang, menandakan pasar tidak lagi memberikan premi untuk strategi tersebut.

Meski demikian, beberapa analis berpendapat kondisi saat ini belum masuk fase kepanikan. Data dari Bitfinex menunjukan dompet dengan lebih dari 10.000 BTC hanya mengurangi kepemilikan 1,5% selama Oktober 2025. Mereka menilai arus keluar ETF adalah sementara dan bagian dari pengambilan untung bertahap.

Tim analis Bitfinex menulis, “Para whale tidak menjual karena takut, melainkan mengunci keuntungan di tengah melemahnya permintaan ETF. Ini fase penyeimbangan pasar sebelum reli berikutnya ketika likuiditas dan arus masuk meningkat.”

Bitcoin menikmati kenaikan spektakuler sejak awal 2025 dibantu ETF spot yang disetujui di AS, namun volatilitas tinggi dan ketidakpastian kebijakan moneter global membuat banyak investor besar mengurangi eksposur mereka.

Situasi ini mencerminkan penyesuaian pasar kripto global di tengah risiko perubahan suku bunga dan arah pasar keuangan dunia.