Bank Nagari dan Tanggung Jawab Sosial di Tengah Musibah Pasar Payakumbuh

Bank Nagari dan Tanggung Jawab Sosial di Tengah Musibah Pasar Payakumbuh

Oleh : ekachn

Bank Nagari dan Tanggung Jawab Sosial di Tengah Musibah Pasar Payakumbuh

Oleh : Eka

Kebakaran yang melanda pusat pertokoan Blok Barat Pasar Payakumbuh pada 3 September 2025 lalu bukan hanya memusnahkan kios dan barang dagangan, tetapi juga memadamkan harapan puluhan pedagang kecil yang menggantungkan hidup di sana. Dalam kondisi seperti ini, hadirnya tangan-tangan yang peduli menjadi sangat berarti.

Bank Nagari, sebagai lembaga keuangan daerah, tampaknya memahami betul perannya bukan hanya sebatas institusi profit, melainkan juga bagian dari denyut nadi sosial dan ekonomi masyarakat Sumatera Barat. 

Bantuan Rp90 juta yang disalurkan meski mungkin tidak sebanding dengan kerugian total para pedagang memberikan sinyal kuat bahwa Bank Nagari tidak berpangku tangan ketika warganya ditimpa musibah.

Lebih dari itu, langkah restrukturisasi kredit yang ditawarkan menjadi bukti konkret bahwa kepedulian tidak hanya berhenti pada simbol seremonial. Penangguhan pembayaran pokok dan bunga, perpanjangan tenor, hingga pengurangan suku bunga adalah kebijakan yang bisa menjadi penyelamat bagi pedagang agar tetap bertahan di tengah keterpurukan. 

Di sinilah letak esensi dari sebuah bank daerah: hadir bukan hanya sebagai penyedia modal, tetapi juga sebagai mitra pemulihan.

Namun, yang patut kita renungkan adalah keberlanjutan langkah semacam ini. Apakah program restrukturisasi akan dikawal hingga tuntas, atau sekadar menjadi reaksi sesaat pascabencana? Apakah bantuan sosial Bank Nagari bisa diperluas agar menyentuh aspek lain, misalnya pemberdayaan kembali pedagang yang kehilangan mata pencaharian?

Pada akhirnya, kebakaran Pasar Payakumbuh adalah ujian bagi semua pihak, termasuk pemerintah, perbankan, dan masyarakat. Dan Bank Nagari, lewat langkah kecilnya, telah menunjukkan bahwa krisis bisa dijawab dengan empati sekaligus solusi. Tinggal bagaimana kepedulian ini dijaga agar tidak sekadar menjadi catatan musibah, melainkan pijakan menuju kebangkitan ekonomi lokal.