Bank Indonesia Pertahankan BI Rate 4,75%, Siap Intervensi Rupiah yang Dekati All-Time Low

Bank Indonesia Pertahankan BI Rate 4,75%, Siap Intervensi Rupiah yang Dekati All-Time Low

Oleh : iTheoS

Glitik - Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Rabu (21/1/2026), sejalan ekspektasi konsensus pasar. Keputusan ini juga menjaga deposit facility di 3,75% dan lending facility di 5,5%, dengan fokus utama menstabilkan nilai tukar rupiah yang sempat sentuh all-time low Rp16.950/USD pada Selasa (20/1).

Strategi BI Hadapi Tekanan Rupiah

Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan keyakinan bahwa rupiah akan stabil dan berpotensi menguat, didukung inflasi rendah, peningkatan arus modal asing, serta prospek pertumbuhan ekonomi solid. BI tak segan lakukan intervensi skala besar di pasar spot, NDF offshore/onshore, dan obligasi, didukung cadangan devisa mencapai US$156,5 miliar per akhir Desember 2025, tertinggi sejak Maret 2025 dan setara 6,3 bulan impor. Perry menyebut penurunan suku bunga masih dipertimbangkan, tergantung data ke depan.

IHSG Anjlok 1,36% Imbas Foreign Outflow

Tekanan rupiah langsung berdampak ke pasar saham, dengan IHSG ditutup merosot 1,36% atau 132 poin ke 9.010,33, tertekan net sell asing Rp1,9 triliun, utamanya Rp1,73 triliun di BBCA. Yield obligasi pemerintah 10 tahun naik 9,4 bps menjadi 6,33% dalam seminggu, sinyal pasar obligasi yang tertekan lebih dulu. Analis perkirakan support IHSG di 9.000, meski fundamental domestik tetap kuat.

Kontroversi Pencabutan Izin Tambang UNTR & INRU

Pemerintah cabut izin usaha 28 perusahaan, termasuk PT Agincourt Resources (UNTR) pengelola Tambang Martabe dan Toba Pulp Lestari (INRU), karena pelanggaran lingkungan yang perburuk banjir Sumatra akhir 2025. Estimasi kontribusi laba bersih Martabe (220 ribu oz emas) capai 27-39% dari laba UNTR 2026F; INRU klaim belum terima surat resmi, Agincourt belum respons.